Full Marathon (!) – Bagian 1

Setelah sekian lama menunda-nunda karena berbagai jenis alasan setiap tahunnya, akhirnya di tahun 2015 ini saya resmi pernah menamatkan sebuah Full Marathon race. Mungkin ini adalah mimpi paling tipikal yang dimiliki oleh hampir semua pelari rekreasional, termasuk saya.

Di finish line, disambut oleh suami dan teman-teman tersayang <3

Kalo ditanya apa yang membulatkan tekad saya untuk menempuh jarak 42.195 km dengan berlari, saya terpaksa harus kembali mengenang apa yang terjadi sekitar lima bulan yang lalu, akhir bulan Mei 2015.

Ketika itu, saya sedang hamil 13 minggu. Semua gejala kehamilan yang sehat saya alami, mulai dari mual-mual sepanjang hari, berat badan yang naik (meskipun hanya sedikit), sensitif terhadap bau-bauan, merasa lelah setiap saat… Pokoknya semua. Tapi ketika saya memeriksakan kehamilan saya ke dokter kandungan untuk ketigakalinya, ternyata, meskipun kehamilan saya sehat, tidak begitu dengan janin yang saya kandung. Di sinilah saya berkenalan dengan sebuah istilah kedokteran yang sangat menakutkan: gastroschisis ectopia cordis, dan kehamilan saya pun diputuskan untuk tidak diteruskan.

Setelah menyelesaikan seluruh prosedur medis, saya melakukan kontrol secara berkala. Pada kontrol terakhir, dokter yang menangani saya mencetuskan sebuah ide ‘brilian’:

“Oke, ini sih sekarang kamu sudah sehat dan bisa berkegiatan seperti biasa. Kalo kamu mau lari marathon juga udah boleh.”


Mungkin karena memang membutuhkan ‘pelarian’, atau karena merasa kehamilan saya–meskipun singkat–cukup berhasil menimbun tumpukan lemak di berbagai sudut tubuh saya, atau mungkin juga karena memang pada dasarnya saya sudah terlalu kangen lari, saya menanggapi perkataan Pak Dokter dengan sangat serius. ‘Ya, saya mau menamatkan Full Marathon ah, sebelum saya hamil lagi.’

Paling tidak, saya ingin menghilangkan rasa penasaran saya pada mimpi yang satu ini sebelum saya memasuki tahap kehidupan yang selanjutnya. Lagipula, dokter memang tidak menyarankan saya untuk langsung hamil kembali, paling tidak sampai melewati tiga kali masa haid. Itupun, selama tiga bulan sebelum hamil, saya harus mengonsumsi obat-obatan tertentu untuk mencegah terjadinya kecacatan pada janin (lagi).

Maka, resmilah saya memulai masa latihan untuk mengikuti Full Marathon pertama saya.

Event yang saya pilih saat itu adalah Jakarta Marathon (JakMar) 2015. Alasannya, karena masih cukup banyak waktu untuk berlatih sampai hari H di Bulan Oktober. Selain JakMar, event lari lainnya yang menawarkan Full Marathon course di Indonesia adalah BII-Maybank Bali Marathon (BMBM). Tapi, penyelenggaraannya yang lebih awal (Bulan Agustus) menurut saya tidak akan memberikan waktu persiapan yang cukup pada saya yang harus berlatih lari dari awal lagi. Selain itu, tentunya biaya transportasi menjadi pertimbangan lainnya. Lagipula, waktu itu, slot FM di BMBM sudah habis terjual :))

Setelah mendaftar, hal selanjutnya yang saya lakukan adalah membuat training plan. Selama 20++ minggu, jadwal latihan saya diatur dengan intensitas yang disesuaikan dengan fitness level saya dan target yang ingin saya capai. Untuk membuat training plan ini, saya menggunakan bantuan My Asics. Setelah training plan selesai dibuat dan target ditetapkan, maka saya pun memulai perjalanan menuju 25 Oktober 2015 *ikat tali kepala*.

Di masa-masa persiapan ini, saya merasa sangat beruntung menjadi bagian dari komunitas pecinta olah raga lari. Dengan mudah, saya bisa menemukan teman untuk menemani saya berlari, baik secara sengaja ataupun tidak. Selain itu, teman-teman dan para senior di G10Runners tidak pernah pelit untuk berbagi ilmu dan selalu welcome untuk mendengarkan curhatan saya selama masa latihan.

Di tengah-tengah masa latihan, saat saya sedang mencari ilmu-ilmu tambahan seputar perlarian, saya pun menemukan komunitas lain yang juga tidak kalah menyenangkan, yaitu Kaskus Runners Bandung (KRB) (ya, pada tau lah ya dari mana asal muasalnya komunitas ini :))). Beberapa long run penting yang saya lakukan selama masa training plan berhasil saya eksekusi karena dukungan dari teman-teman KRB 😀 Bahkan, di hari H JakMar, saya mendapat pinjaman compression calf sleeve dari salah seorang anggota KRB *kiss kiss untuk Okky*.

Leave a Reply