Full Marathon (!) – Bagian 2

Lima bulan menjalani training plan adalah lima bulan terpanjang dalam hidup saya :)) Mulai dari latihan di bulan puasa, beberapa kali terserang flu, bosan, pencernaan terganggu, semua terjadi. Alhamdulillah, semua cobaan itu tidak menyurutkan niat saya untuk lari.

Setelah memaksimalkan tapering dan carbo loading di penghujung masa training, tiba saatnya satu kegiatan final menjelang race day: tidur. Di sini saya gagal total karena… tiba-tiba mati lampu. Tidur di Jakarta tanpa AC atau kipas angin itu ternyata sulitnya luar biasa, apalagi kalo udah terbiasa tidur di Bandung.  Tapi berhubung saya harus membuang jauh-jauh segala jenis pikiran negatif, saya ambil hikmahnya aja: saya jadi nggak telat bangun.

Setelah bersiap-siap dengan kilat (karena semua perlengkapan lari udah saya siapkan sejak berangkat dari Bandung), saya pun berangkat ke Monas. Saya memilih untuk parkir di Stasiun Gambir dengan pertimbangan kemudahan parkir, tapi ternyata keputusan saya… agak salah. Di tengah perjalanan dari Gambir menuju start line, terdengar MC berteriak: ‘STAAAAARRRRT!’ yang (tentunya) ditujukan untuk para peserta FM. Saya pun ngibrit. Waktu melewati garis start, saya sempet lirik timer di gate, tertera angka menit 6 *nangis*.

Di kilometer-kilometer awal, saya hampir nggak mempedulikan pace. Saya cuma berusaha supaya nggak panik dan nggak putus asa. Nggak lama setelah saya mulai lari, rombongan HM pun mulai membalap saya. Saya tetap berusaha untuk tenang dan run in my own pace.

Untungnya, nggak lama kemudian saya menyalip dua orang bapak-bapak yang sempet terdengar lagi ngobrol. ‘Iya Pak, saya juga pelan-pelan aja. Perjalanan masih panjang,’ gitu kata salah satunya. Karena penasaran, saya pun mengintip ke belakang. Ternyata mereka berdua pake bib warna biru, yang artinya mereka juga peserta FM. Hampir saya sujud syukur di situ karena seneng banget saya bukan peserta FM yang paling bontot. Saya pun jadi makin tenang.

Kepanikan saya mulai muncul lagi ketika di water station ketiga (km 7.5), saya kehabisan air putih. Membayangkan harus lari sejauh 34.5 km tanpa minum air putih sempet bikin pandangan saya jadi agak burem dan beraneka suara maki-makian terdengar di dalam kepala. Saat itu saya mulai mengutuk diri saya yang larinya lelet :'(.

Setelah sadar bahwa mengutuk pace sendiri nggak akan bikin saya lari makin kenceng atau finish lebih cepet, saya pun memutuskan untuk beli air mineral dari tukang dagang di sekitar Monas. Nikmat banget rasanya. Saya jadi lebih semangat dan lebih ringan melangkah. Waktu lewat di depan Monas pun saya bisa kembali tersenyum.

Foto oleh Mba Elisa, di KM 18-19

Memasuki Kuningan, saya mulai merasa telapak kaki saya agak perih. Ternyata ada blister di kedua telapak kaki saya. Sambil menahan sakit, saya melihat ke jalan seberang. Banyak peserta FM yang sudah kembali menuju Monas, sementara saya baru menempuh setengah perjalanan.

Entah karena aspal yang sudah terlalu panas atau karena apa, rasanya telapak kaki saya sakitnya makin menjadi. Di depan Hotel Gran Melia pun saya memutuskan untuk berhenti berlari dan jalan saja.

Sepanjang jalan dari Gatot Subroto sampai kembali memasuki Kuningan, saya nggak lari samasekali. Tapi ajaibnya, lecet di telapak kaki saya juga makin tajam nyerinya kalo saya berjalan santai, apalagi berhenti. Akhirnya, saya berjalan dengan pace 9-10. Ajaibnya (lagi), justru saat saya ber-power walk inilah saya banyak nyalip pelari-pelari lain. Bahkan saya sempet nyalip beberapa peserta yang jogging. Di situ saya sempat merasa awesome dan merasa seluruh semesta berkonspirasi buat menjaga saya supaya tetap berpikir positif :)).

Di marking km 35, saya pun mencoba kembali berlari pelan. Entah karena sudah terbiasa dengan rasa sakit dari blister di telapak kaki atau karena keajaiban alam, saat itu saya tidak merasa sakitnya terlalu perih atau tajam. Dan keajaiban ternyata tidak berhenti di situ, karena di km 36 saya bertemu teman kuliah saya yang lagi jaga WS bareng sama komunitasnya: Paul. Setelah menyemangati dan berbincang selewat, saya kaget karena dia langsung mengambil posisi di samping saya dan mengeluarkan kalimat yang paling membuat saya bahagia di hari itu: ‘Sini gue pacer-in.’

Selama 6 km, Paul terus menyemangati saya. Saya sendiri nggak merasa lelah atau ngos-ngosan atau sakit atau apapun, saya cuma bosen lari (sumpah). Hampir setiap 500 m, saya berhenti lari dan jalan. Pacing saya waktu itu udah sangat mengkhawatirkan. Saya makin mepet sama COT!

Memasuki jalan Imam Bonjol, setiap marshall yang saya temui menyemangati saya dengan sungguh-sungguh. Bedanya dengan marshall-marshall yang sebelumnya saya temui, mereka kini menyemangati sambil menyebutkan angka menit yang tersisa. Bikin stres? Lumayan. Bikin semangat? Nggak jugaaaa :___(

Sepanjang melewati jalan Thamrin, saya bener-bener panik dan hampir putus asa. Tapi saya lihat pelari-pelari lain yang jaraknya hanya beberapa meter di depan saya. Mereka semua tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda akan menyerah, bahkan masih sesekali berlari dengan segenap tenaga yang tersisa. Kalo mereka aja masih terus mau usaha, masa iya saya mau nyerah?

Setelah melewati U-turn halte busway di depan Museum Gajah (ini adalah ruas rute yang paling menyebalkan dari sepanjang 42 km rute FM JakMar–silakan tanya siapa saja yang ikutan), semangat saya pun berangsur-angsur membaik. Paul udah nggak nyebutin angka menit yang tersisa lagi, dia cuma nyemangatin saya tanpa henti.

Memasuki Monas, saya kembali putus asa. ‘Itu timer-nya aja udah nggak nyala, Ul! Udah nggak kekejaar!’ teriak saya sambil nahan nangis. Paul terus nyemangatin sambil dorong-dorong saya pelan. Nggak lama kemudian, Mbak Elisa lari juga menghampiri saya dan menarik tangan saya ke arah gerbang finish. Pace saya pun naik teruuuuus sampe akhirnya saya sampe di bawah gerbang itu! Saya mendengar nama saya disebutkan oleh MC (yang adalah Bang Idir), dan saya kebanjiran ucapan selamat dari orang-orang yang saya kenal yang menunggu saya di finish, termasuk suami saya tercinta. Saya pun….. mewek :____________(

Lalu Paul yang sangat berjasa udah jadi pacer saya tiba-tiba nepuk bahu saya dan bilang: ‘Sin, itu timer-nya bukan mati, tapi emang dipasangnya ngadep ke dalem.’ :)) Meskipun di situ saya masih belom ngeh berapa catatan waktu saya, saya udah merasa lega banget.

Yeay! I'm a (slow) marathon finisher!
Yeay! I’m a (slow) marathon finisher!

Saya berhasil menamatkan FM perdana saya dengan dramatis alias mepet COT. Selisih waktunya cuma 4 menitan, tapi buat saya itu udah saaangaaaaaat lebih dari cukup. Bukan berarti saya nggak akan mencoba untuk jadi lebih baik di FM saya selanjutnya, tapi buat saat ini, saya merasa apa yang telah saya capai sangat patut disyukuri.

Dan tentunya, semoga kamu bisa bangga sama ibumu ini, Nak :)
Dan tentunya, semoga kamu bisa bangga sama ibumu ini, Nak 🙂

Comments

  1. Pingback: Lebaran Tanpa 'Dosa' - DYAHSYNTA

  2. Pingback: Berlari di BNI ITB Ultra Marathon 2017 - Loving Life Through Yoga

Leave a Reply