Crochet, Crochet, Crochet

Hobi saya nambah lagi, nih :)).

Beberapa tahun yang lalu, waktu masih SD, saya pernah menemukan setumpuk benang wol di kamar ibu saya. Saya lupa bagaimana persisnya, tapi yang jelas setelah itu saya dikenalkan dengan kegiatan yang namanya crocheting. Waktu itu, saya diajari cara membuat chain, dan saking senangnya, selama berhari-hari setelahnya, saya berulang kali membuat chain yang panjang-panjang, tanpa mengetahui bahwa yang saya lakukan itu samasekali bukan crocheting :)). Dan seperti layaknya anak kecil, tidak lama setelahnya, saya pun bosan.

Nah, beberapa bulan yang lalu, saat mengunjungi orang tua saya di Jakarta, seperti biasa saya menghabiskan waktu dengan bermain bersama keponakan saya yang lucu dan ganteng (#auntyspride). Si ponakan saya ini–sebut saja namanya Pedro–punya kebiasaan suka ‘nengokin’ saya ke kamar, terus buka lemari, dan ngambilin pajangan keramik Hello Kitty yang dulu saya koleksi. Hari itu pun Pedro melakukan ritualnya ini, dan saya menemaninya.

Mungkin karena mulai bosan sama pajangan Hello Kitty yang itu-itu aja, Pedro pun mulai menambah area jelajahnya. Dia menemukan sebuah kotak di dalam lemari di kamar saya itu, lalu membukanya. Jreng jreng, bener ternyata, ada beberapa pajangan lainnya. Pedro pun senang karena mainannya bertambah banyak.

Ketika Pedro asyik ngebaris-barisin ‘inan’ (sebutan Pedro untuk ‘mainan’), saya melirik ke dalam kotak tersebut dan ternyata saya juga menemukan ‘mainan’ untuk saya sendiri: crochet hook ibu saya dulu. Saat itulah saya baru ingat, sejak dikenalkan dengan crochet, saya tidak pernah mengembalikan 2 hook metal milik ibu saya–sampai detik ini.

 

 

Sekarang sudah kira-kira dua bulan saya tidak terpisahkan dari crochet hook saya. Sedikit saja saya nganggur, saya langsung mengeluarkan ‘bekal’ berupa gulungan-gulungan benang–terutama saat di rumah atau saat harus menunggu ketika berjanjian dengan seseorang.

Sempat saya membawa rajutan saya saat saya dan suami harus menghadiri resepsi pernikahan seorang teman di luar kota. Tujuannya untuk menjaga saya supaya tidak ketiduran di mobil. Cukup berhasil, karena sepanjang jalan saya jadi anteng dan bisa diajak ngobrol. Tapi sayangnya, begitu kembali sampai Bandung, saya langsung pusing dan mual luar biasa. Saya duga, saya mabuk perjalanan karena merajut. Hahahaha. Karena itulah, saya nggak pernah lagi merajut di mobil, meskipun perjalanannya akan panjang atau diperkirakan akan macet.

Meskipun butuh ketekunan dan konsentrasi–terutama untuk pemula–saya merasa crocheting sangat fun dan sederhana. Semua orang pasti bisa, karena saya pun cuma butuh sekitar 1-2 jam untuk mempelajari tekhnik-tekhnik dasarnya. Modal awalnya pun nggak mahal, karena sekarang sudah banyak sekali benang lokal yang berkualitas dan harga per gulungnya nggak sampe sepuluh ribu. Kalo mau mulai dengan benang yang harganya mahal pun juga sah-sah saja, karena ironisnya, biasanya benang yang mahal itu lebih beginner-friendly. Heu.

Yah, paling resikonya diejek jadi kayak nenek-nenek :p Tapi jaman sekarang sih, kayaknya banyakan nenek-nenek yang mainan Facebook daripada yang ngerajut, ya :)).

Yuk merajut! 😀

Leave a Reply