Antara Sakit Punggung & Postur

Antara Sakit Punggung & Postur
Image by © Tara Moore/Corbis

 

Saya punya sebuah penyakit yang usianya sudah menahun. Penyakit ini awalnya saya rasakan ketika….. ah, bahkan saya sudah lupa kapan tepatnya. Mungkin sejak kira-kira kelas 3 SMA. Sakitnya di bagian punggung atas sebelah kiri. Sekitar tulang belikat, tapi agak ke atas lagi, ke arah leher. Sakitnya mirip-mirip pegal, tapi lebih nyeri dan menusuk. Mungkin mirip-mirip dengan backpain yang suka dikeluhkan orang-orang.

Seingat saya, sudah dua kali saya berusaha menyembuhkan nyeri ini. Keduanya dengan fisioterapi, tapi di tempat yang berbeda dan dengan metode yang berbeda pula. Meskipun fisioterapi cukup ampuh membuat bahu saya merasa nyaman, tapi saya tetap merasa nyeri tersebut tidak menjadi lebih baik.

Nyeri ini biasanya membaik setelah saya melakukan sesi yoga, apalagi yang banyak gerakan back bending-nya. Tapi beberapa jam setelah sesi yoga itu berlalu, biasanya nyeri tersebut mulai kambuh lagi.

Karena telah bertahun-tahun hidup dengan rasa nyeri itu, saya selalu curiga kalau penyebab utamanya adalah: postur tubuh. Analisis sok tahu saya, mungkin secara tidak sadar saya suka bersandar di bahu kiri dengan posisi bahu kiri yang terangkat ke dekat telinga. Saking seringnya, hal ini lalu menyebabkan bahu kiri saya tegang, dan jadi nyeri. Jadi, biasanya kalau rasa nyeri itu mulai kumat, saya berusaha ‘menurunkan’ bahu saya sejauh mungkin dari telinga.

Tapi ternyata, bukan itu yang sebenarnya terjadi dan–tentunya–bukan itu pula pemecahan masalahnya.

Saya mulai menyadari kesalahan ini ketika salah satu teman lari saya, yaitu Bang Maul, menegur saya saat kami sedang berlari rame-rame.

‘Syn, bahu lo kalo lari tuh gini ya?’

Ia menanyakan hal ini sambil melengkungkan kedua bahunya ke arah dada.

Saya sempat terdiam. Dan setelah merenung sedikit, saya menyadari bahwa ternyata jawabannya adalah: iya. Ternyata bahu kiri saya bukan shrugging, tapi rolling forward.


 

Beberapa hari setelahnya, seperti biasa rasa nyeri itu kumat lagi. Saya pun kembali teringat hasil analisis Bang Maul, dan memutuskan untuk melakukan ‘konsultasi’ yang paling ampuh, efektif, dan tidak memakan banyak waktu: Googling :)).

Percaya tidak percaya, postur yang buruk ternyata merupakan ‘penyakit’ yang jauh lebih umum daripada yang saya bayangkan sebelumnya. Metode penyembuhannya pun banyak di-share di jagat dunia maya. Tinggal pilih, mau yang berupa peregangan, exercise ringan, atau tips kecil yang bisa dilakukan kapan saja.

Saya sendiri memilih untuk mencoba memperbaiki dari hal yang kecil dulu, dan secara ajaib saya menemukan artikel ini. Isi tipsnya sangat sederhana:

Whenever you’re doing something that does not require use of your hands, turn them so that they’re palm-side up. You also can do it while standing or walking, leaving your arms down at your sides and turning your palms so that they face outward in the direction you’re facing.

Sering-seringlah meletakkan telapak tanganmu dengan posisi menghadap ke langit-langit. Sesederhana itu.

Saat mencoba tips ini, saya benar-benar merasa tidak nyaman. Ternyata memang benar, selama ini saya terlalu banyak mengistirahatkan telapak tangan kiri saya dalam posisi menelungkup. Akibatnya, beberapa otot sudah kaku dan tidak terbiasa untuk berada pada posisi sebaliknya. Mungkin salah satu otot yang jadi ikut kaku adalah otot-otot di sekitar tulang belikat saya, sehingga jadi sering sekali terasa nyeri.

Apakah tips yang terlalu sederhana–bahkan agak-agak too good to be true–ini akan menjadi solusi yang ampuh untuk menyembuhkan nyeri menahun yang saya alami? Nggak tau juga. Tapi yang jelas, beberapa hari yang saya lewati sambil mempraktekkan tips ini memang berhasil saya lalui tanpa nyeri yang terlalu menusuk. Bahkan otot-otot tersebut jadi terasa lebih rileks. Mungkin para pekerja kantoran yang akrab dengan posisi duduk di meja bisa mencoba tips sederhana ini juga 🙂

Mengkoreksi postur tubuh sendiri memang bukan hal yang mudah, terutama ketika mencoba mencari tahu apa yang salah. Sulitnya minta ampun. Jadi, kalau orang-orang terdekat kita mencoba mengingatkan dengan penuh perhatian, seperti dengan nyeletuk ‘Eh, jangan bungkuk deh, nggak enak diliatnya,’ sebenarnya kita harus banyak berterima kasih. Karena mungkin komentar selewat yang dia lontarkan itu dapat menyelamatkan kita dari derita yang berkepanjangan.

Comments

  1. rhilyzoro

    Syntaa.. Persis sama bgt penyakit nya kaya aku. Dari SMP malah.Tapi aku lebih keatas, di bawah leher kiri atas tulang belikat dikit. Nyerinya sampe kaya kesetrum, nusuk2 gitu.. Pas lg yoga, instruktur aku nyangkanya aku skoliosis, sampe di rontgen sgala. Tp kt dokter ga ada apa2.. Fisioterapi jg ga ngaruh. Akhirnya analisa sendiri deh.. Trnyata gara2 dr SMP selalu pake strap gitar/bass yg lebarnya terlalu kecil dan beban bass nya terlalu berat. Membuat pundak kiri aku menopang beban yg berlebihan,jdnya otot pundak leher aku wakwaw.. Sediiih heuheu smoga kita sama2 fit lagi yah ceu

    1. Post
      Author
      Dyahsynta

      Rhiiil, ya ampun ternyata derita kita mirip-mirip! Bikin putus asa kan ya sakit nusuk-nusuk gitu terus >.< Amin, mudah-mudahan kita sama-sama fit dan bugar selalu! :*

  2. opipolla

    sudah coba pake berenang?
    aku LBP sih, heueheu
    akupun sudah coba fisio di dua tempat tapi perasaan ga ngaruh huhuhu, trus cobain berenang dengan terapis alhamdulillah udah jauh berkurang

    1. Post
      Author
        1. Post
          Author

Leave a Reply