Satu Bulan Ber-Bullet Journal-ria

bullet journal

Sejak SD, saya sangat menyukai tulis-menulis. Bukan cuma dalam konteks ‘menciptakan tulisan’ seperti membuat cerpen atau artikel, melainkan juga sebagai kegiatan. Kegiatan memegang pensil, bolpen, spidol, atau apapun, lalu menggoreskannya di atas kertas dengan kata-kata (dan juga gambar-gambar), menurut saya sangat menyenangkan.

Kegemaran itu–dibarengi dengan sifat doyan curhat 😀 membuat saya memiliki kebiasaan menulis diary selama bertahun-tahun. Sudah banyak sekali buku diary yang habis saya tulisi dari lembar pertama sampai lembar penghabisan. Biasanya di situ saya bercerita tentang keseharian saya, unek-unek, gebetan, kegalauan, kemalasan belajar/ngerjain PR/takut ulangan, dan curhat-curhat khas abege lainnya. Diary-diary ini sejak dulu selalu menjadi incaran kakak saya kalo isengnya lagi kumat, karena di dalamnya dia bisa menemukan hampir semua rahasia saya -_-

Sejak memasuki bangku kuliah, hobi saya ini makin jarang saya lakukan. Mungkin sejak pertengahan tahun pertama kuliah, saya sudah tidak lagi menulis diary. Saya juga lupa apa penyebabnya. Mungkin karena terlalu banyak tugas kuliah atau terlalu sering main sama teman-teman… atau bosan. Yang jelas, saya tidak lagi menyisihkan uang jajan untuk membeli note book baru setiap 6 bulan.

Sekarang, setelah hampir sepuluh tahun tidak menulis diary (yah, ketahuan deh saya kuliahnya udah lama 🙁 ), saya dipertemukan dengan… bullet journal. Apa itu? Silakan simak di sini atau lihat di video berikut ini:

Pertama kali mendengar tentang bullet journal ini, saya langsung teringat pada salah seorang senior di kantor pertama saya dulu, namanya Mbak Anu. Mbak Anu pernah bercerita kalo hal pertama yang dia lakukan setiap hari adalah membuat to-do list untuk hari itu. List ini dibuat selengkap mungkin sampai ke hal paling kecil seperti ‘Telepon tukang listrik,’ ‘Ambil uang ke ATM,’ dan sebagainya. Nah, konsep bullet journal ini mirip dengan konsep to-do list milik Mbak Anu.

Jadi, sebulan terakhir ini, setiap bangun tidur atau sebelum tidur malam, saya selalu menyempatkan diri untuk ‘mendaftar’ apa-apa saja yang harus saya lakukan keesokan harinya. Ini bermanfaat banget buat saya yang mudah lupa dan gampang terdistraksi sama percakapan WhatsApp atau notifikasi Instagram. Saya jadi lebih mudah untuk mengembalikan fokus ke hal-hal yang lebih penting 😀

Sebagai orang yang bekerja dari rumah, waktu kerja yang sangat loose membuat saya kadang sering kesulitan menjaga fokus untuk mengerjakan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan karena ada saja urusan rumah tangga yang harus dikerjakan. Ujung-ujungnya jadi keasyikan ngerjain yang lain dan baru inget sama deadline kerjaan di saat-saat terakhir–panik deh. Nah, setelah berkenalan dengan bullet journal, saya jadi lebih mudah menentukan prioritas pekerjaan setiap hari karena hal-hal yang harus saya kerjakan sudah terpampang nyata 😀

Hal lain yang membuat metode bullet journal ini menyenangkan adalah karena saya jadi ingat pada masa-masa menulis diary dulu. Bedanya, kali ini ‘diary’ saya ditulis dengan lebih ringkas dan singkat (biarpun kadang masih pake smiley dan kata-kata tak bermakna seperti ‘Wow!’ atau ‘Kyaa!’ *can’t help it, sorry*).

Kebetulan, beberapa hari sebelum saya mengenal bullet journal, saya mendapat souvenir pernikahan berupa note book polos berukuran mini yang berwarna marun dengan ilustrasi burung merak cantik hasil karya Wanara StudioNote book inilah yang kini saya gunakan untuk ber-bullet journal-ria.

bullet journal
Cantik, ya?

Tertarik untuk mencoba bullet journaling? Berikut beberapa video dari YouTube yang dibuat oleh bullet journal-ers lainnya yang bisa menjadi referensi:

 

Happy bullet journaling!

1minggu1cerita

Comments

    1. Post
      Author
  1. Pingback: Kembali menulis – Celotehan Perempuan Rakbowl

  2. Pingback: Berbuat Benar atau Berbuat Baik? - DYAHSYNTA

Leave a Reply