Cerita di Balik Pouch Baru

Dua minggu yang lalu, saya berselisih dengan seorang teman dan merasa kesal luar biasa. Saking emosinya saya, sampai pukul 10 malam itu saya nggak merasa ngantuk samasekali. Padahal biasanya, setiap melewati pukul 9 malam, saya udah nggak bisa diajak ngobrol alias udah agustusan (baca: ‘Aduh Gusti, tunduh pisan’).

Sampai sekitar pukul 1, suami saya masih menemani ngobrol sambil mendengarkan curhatan saya. Tapi setelahnya, dia pun terlelap. Saya yang masih belum merasakan kantuk sedikitpun jadi mencari-cari cara untuk menyalurkan energi yang dihasilkan dari luapan kekesalan itu. Saya nggak mau hanya menghasilkan energi negatif malam itu. Pokoknya harus bisa jadi sesuatu–dan sebisa mungkin sesuatu yang positif.

Saya melirik tumpukan novel di meja nakas, mengambil salah satu, dan membuka halaman yang sudah saya tandai. Satu, dua kalimat terlewati. Masuk kalimat ketiga, rentetan kata-kata itu tiba-tiba tidak lagi memiliki arti. Saya harus mengulang lagi dari kalimat pertama untuk dapat memahami arti kalimat ketiga. Terus berulang seperti itu sampai beberapa kali. Akhirnya saya sadar, saya bahkan terlalu kesal untuk memfokuskan diri pada novel.

Saya letakkan lagi novel itu ke tempatnya semula. Pandangan saya lalu bergeser beberapa senti dari tumpukan novel tersebut. Saya melihat tumpukan benang dan jarum rajut. Tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk merajut. Tanpa rencana pola apapun, tanpa membayangkan hasil akhir apapun–saya hanya merasa tangan dan pikiran saya harus disibukkan supaya tidak terus-terusan merasa kesal.

Dengan cepat, saya mengetik ‘tapestry crochet pattern’ di Google. Hasil pencarian image yang muncul dan menarik perhatian saya adalah sebuah pattern dari idola saya, Molla Mills:

pouch
Free Pattern dari Molla Mills

Tidak lama kemudian, saya pun tenggelam dalam kesibukan merajut. Selain menghitung pola, saya tidak banyak berpikir. Saya mulai merajut satu simpul demi satu simpul dengan hakken kesayangan saya. Ketika waktu sahur tiba, di tangan saya sudah terbentuk beberapa baris pola bagian awal, dan itu cukup bisa mengobati kekesalan yang saya rasakan semalaman.

Setelah makan sahur, saya pun bisa tidur dengan tenang.


Sampai beberapa hari setelahnya, proyek rajutan tersebut masih saya kerjakan. Seperti biasa, setiap baris yang semakin membentuk pola yang saya inginkan selalu menciptakan kebahagiaan tersendiri. Kebahagiaan ini tetap terasa meskipun saya melakukan satu kesalahan mendasar, yaitu menggunakan single crochet padahal seharusnya double crochet (makanya wujud rantai yang terbentuk lebih cebol daripada yang tergambar di pattern :p ). Selama berhari-hari kemudian, saya pun terus mengerjakan rajutan ini.

pouch
Termasuk saat saya harus menunggu di dalam mobil 😀

Saya berhenti mengerjakannya ketika gulungan benang warna cokelat sudah habis terajut. Ketika itu, di tangan saya sudah ada satu bentuk pouch yang menunggu untuk diselesaikan (baca: dipasangkan zipper, handle, dan hal-hal finishing lainnya).

Saya memutuskan untuk menambahkan selembar bahan kulit imitasi sebagai strap dengan model slip through.

pouch
Tadaaa

Malam itu, ketika saya merasa kesal sampai ke ubun-ubun dan nggak bisa tidur satu detik pun, saya nggak kebayang bahwa dua minggu setelahnya saya akan menghadiahi diri saya dengan sebuah pouch buatan saya sendiri. Ketika itu bahkan saya sudah beberapa bulan tidak menyentuh hakken dan benang rajut. Hanya karena luapan emosi, saya bertindak impulsif dan mengambil gulungan benang dari tumpukannya. Bahkan saya tidak memikirkan padanan warna.

Sampai kapanpun, pouch ini akan selalu mengingatkan saya pada insiden penuh emosi yang saya alami malam itu. Bahkan beberapa kali saya menyebut pouch ini dibuat dengan ‘kekuatan amarah’. Saya bukan ingin merayakan luapan kemarahan yang saya rasakan saat itu, tapi ternyata, setiap kali melihat pouch ini, saya selalu ingat bahwa emosi yang negatif pun bisa saya jadikan ‘bahan bakar’ untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Mudah-mudahan mulai sekarang saya tidak lagi menunda melakukan suatu pekerjaan dengan alasan ‘Duh, mood-nya belom dateng. Karena ternyata saya tidak butuh alasan apa-apa untuk menjadi produktif. Saya hanya butuh niat 🙂

1minggu1 cerita

Comments

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  1. baiqrosmala

    cantiik mbaa pouch nya..
    duuh itu saya banget, suka nunda kerjaan karena ngerasa belum ada mood. hmmm kayaknya emang harus dipaksakan yaa, apalagi untuk kegiatan positif dan produktif mestinya nggak ditunda, salam kenal

    1. Post
      Author
  2. Pingback: Pengalaman Seputar Alergi dan Menemukan Obat Sebagai Solusi - DYAHSYNTA

Leave a Reply