28

Ketika masih kecil, saya memiliki beberapa pemahaman yang bersumber dari logika super-sederhana. Saat itu, rasanya semua yang saya pahami dengan logika tersebut sudah sangat masuk akal. Saya bahkan berani menjadikan logika itu sebagai landasan berpikir ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh orang dewasa.

Beberapa tahun kemudian–sampai detik ini–logika berpikir itu membuat saya tertawa terpingkal-pingkal setiap saya mengingatnya.

Saya tentu tidak ingat persis semuanya, tapi beberapa contoh ‘logika ala saya’ itu antara lain: 1) Semua orang yang berjenis kelamin laki-laki pasti akan berkuliah di ITB; sementara 2) semua perempuan akan berkuliah di UI; dan 3) pada akhirnya setiap satu orang mahasiswa ITB akan menikah dengan satu orang mahasiswa UI. Sebagai tambahan, saya pun dulu menganggap ‘Bontang’ (sebuah kota di Kalimantan Timur tempat saya dilahirkan dan dibesarkan) adalah sinonim dari ‘Indonesia’.

Seluruh hal tersebut merupakan kesimpulan yang saya buat berdasarkan wawasan dan pengetahuan yang saya punya–terutama karena apa yang saya lihat di keluarga saya. Ayah saya alumni ITB, ibu saya alumni UI. Maka dengan mudah otak saya bekerja mengikuti majas pars pro toto–sebagian menyatakan seluruhnya.

pars pro to·to

ˌpärz ˌprō ˈtōtō/

noun

formal
  1. a part or aspect of something taken as representative of the whole.

Berdasarkan cara kerja logika yang sama, saya pun selalu meyakini bahwa saat yang paling ideal bagi seorang wanita untuk menikah adalah pada usia 28 tahun. Lagi-lagi alasannya karena ibu saya dulu menikah di usia tersebut. Tapi–beda dari poin-poin ‘logika ala saya’ yang lain–keyakinan ini saya pegang teguh terus sampai saya dewasa. Saya selalu berencana untuk menikah di usia 28 tahun.

Kenyataannya, hari ini saya baru resmi berusia 28 tahun tapi saya sudah dua setengah tahun berpredikat sebagai istri’Apa yang saya yakini sejak kecil ternyata menghilang begitu saja. Apa yang sudah saya rencanakan untuk hidup saya ternyata gagal saya jadikan kenyataan.


Selama 28 tahun hidup di dunia, tentu bukan hanya satu itu saja rencana saya yang gagal terwujud. Dan sebaliknya, hal-hal yang terwujud dalam hidup saya juga tidak semuanya sesuai dengan yang sudah saya rencanakan. Mungkin karena itulah saya jadi tidak suka membuat resolusi dalam momen apapun.

Saya tidak pernah berencana akan menikah di usia 25 tahun, tapi hingga detik ini saya tidak pernah berhenti mensyukurinya.

Ketika usia saya mencapai angka yang sama dengan usia ibu saya saat Beliau menikah, saya akhirnya memahami bahwa rencana, target, resolusi–atau apapun itu–sebenernya sumbernya sama seperti ‘logika ala saya’ yang dulu saya miliki. Semua berakar dari apa yang saya ketahui. Dan sungguh, saya tidak tahu apa-apa. Pengetahuan saya tentang dunia ini kecil sekali. Sebegitu kecilnya, sampai saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang terbaik untuk diri saya sendiri.

Kenyataannya, setiap hari–bahkan setiap saat–pengetahuan kita bisa bertambah. Pengetahuan baru ini bisa saja malah menegasikan apa yang sudah kita yakini selama ini. Yah, jangankan pengetahuan. Kita bahkan tidak bisa memperkirakan perasaan kita besok.

Mungkin hanya ada satu kalimat yang harus terus saya ulang-ulang di kepala saya mulai saat ini:

Gak usah sotoy.

Memiliki planning selalu baik, tapi bukan berarti saya harus membatasi diri sendiri. Mengapa harus kekeuh memaksakan diri menjadi singa kalau sebenernya saya lebih cocok menjadi burung merak?

 
Yang pasti, baik singa maupun burung merak, mudah-mudahan di usia yang baru saya bisa menjadi makhluk yang bermanfaat untuk makhluk lainnya 🙂

Happy birthday, me.


Comments

    1. Post
      Author
  1. opipolla

    luarrr biasaaa…

    selamat ulang taun teh synta..
    keren theme dan layout nya!

    aku pun kadang target dan kenyataan memang kadang ga sejalan, cuma Tuhan yg tau ternyata kita siap.
    icikiwirrr~~

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  2. ajeng

    selamat menambah usia syntaaa..

    hidup ini penuh kejutan ya memang. sering yang kita jadikan target/rencana dan resolusi… meleset, tapi berganti dengan sesuatu yang sampai saat ini tidak henti kita syukuri.

    1. Post
      Author
  3. Chika

    Aku suka bikin daftar impian… tapi habis itu dilupakan. Dan meski jalannya berliku-liku nyimpang sana sini,, akhirnya tercapai juga. Jadi gak maksa ke semesta..

    1. Post
      Author
  4. anil

    ada juga hal yang pernah selintas terpikir, tapi malah itu yang jadi kenyataan.

    pas kejadian teh, baru kepikir: dulu sempet mikir iseng bakal kaya gini.

    *panjang umurnya, serta mulia*

    1. Post
      Author
  5. Phadli Harahap

    Selamat ulang tahun… Kalau saya selalu membayangkan semua anak sekolah di UI karena kakak sulung kuliah disono. Pas lulus SMA baru ngeh ternyata banyak banget universitas negeri. Akhirnya masuk UNPAD, yang penting ga kalah sama si sulung bisa kuliah negeri.

    1. Post
      Author

Leave a Reply