In The Light

lapisan

Saya selalu percaya bahwa setiap manusia diciptakan unik karena kerumitannya masing-masing. Jika sebutir bawang saja bisa memiliki begitu banyak lapisan di dalamnya, maka manusia–yang ukurannya saja sudah berkali-kali lipat lebih besar dari bawang–pasti menyimpan jauh lebih banyak lapisan dalam dirinya. Di balik wajah yang cantik atau tampan, seseorang bisa saja memiliki perasaan insecure luar biasa. Di balik tubuh yang kekar dan kokoh, bisa saja seseorang memiliki hati yang lembut dan mudah tersentuh. Kerumitan yang tidak mudah ditebak inilah yang–menurut saya–membuat seseorang menjadi sangat menarik, bahkan seksi.

Saya semakin mengagumi keberagaman lapisan-lapisan yang ada pada setiap individu setelah saya mulai mempelajari yoga. Bukan hanya satu-dua kali saya merasa terpukau karena melihat seseorang dengan tampilan fisik yang tidak mencerminkan kelenturan atau kekuatan tubuh yang dimilikinya. Salah seorang teman yang saya kenal karena beberapa kali sama-sama mengikuti workshop adalah contoh favorit yang paling nendang di ingatan saya.

Dari penampilan dan pembawaannya, ia lebih terkesan ‘lucu’ daripada ‘kuat’. Orangnya pun ceria dan murah senyum (mendekati cengengesan sih, lebih tepatnya). Interaksi saya dengan dia pada awalnya hanya diisi candaan dan tertawaan–mulai dari hal yang penting sampai yang tidak penting. Tapi ketika ia mencoba mengeksekusi sebuah asana, baru saya menyadari bahwa dia adalah pribadi yang sangat luar biasa.

Yang tiba-tiba saya sadari adalah fakta bahwa dia dapat mengendalikan dirinya dengan sangat luar biasa.

Bukan karena asana tersebut rumit atau menantang, bukan pula karena ia melakukan modifikasi yang membuat asana tersebut menjadi challenging. Dari segi fleksibilitas dan power, yang saat itu dia tunjukkan hampir tidak istimewa karena nyaris seluruh orang yang ada di ruangan itu dapat melakukan asana yang sama. Yang tiba-tiba saya sadari adalah fakta bahwa dia dapat mengendalikan dirinya dengan sangat luar biasa. Dan ini saya sadari secara tidak sengaja karena kebetulan saya melihat caranya bernapas.

Napasnya begitu panjang, dalam, seolah menyatu dengan setiap gerakan yang dia lakukan. Saat berada dalam suatu pose, napasnya tidak berubah, bahkan seolah membimbingnya untuk mengeksekusi pose tersebut semakin dalam. Ketika para peserta lain menganalisa pose yang ia lakukan dan menyebutkan beberapa misalignment, saya hanya bisa diam. Tidak ada satupun misalignment yang sudah disebutkan tadi yang bisa meruntuhkan kekaguman saya pada ketenangannya bernapas. Pokoknya ketika itu saya benar-benar terpesona dan sejak itu pula ia tidak lagi terlihat cengengesan di mata saya.

Entah perlu berapa tahun lagi saya berlatih supaya kesadaran saya pada napas bisa–paling tidak–mendekati seperti itu.

Seketika itu saya langsung merasa sangat bodoh dan dangkal. Saya yang bahkan belum bisa melakukan Natarajasana dengan benar langsung menyadari bahwa perjalanan saya dalam beryoga masih sangat panjang. Entah perlu berapa tahun lagi saya berlatih supaya kesadaran saya pada napas bisa–paling tidak–mendekati seperti itu.

Dan memang keajaiban-keajaiban yang ‘membuka mata’ seperti itulah yang selalu saya temukan dalam yoga. Bagaimana lapisan-lapisan yang tersembunyi dalam setiap individu ternyata bisa begitu berbeda dari penampilan luarnya. Bagaimana ribuan asana itu–bagaimanapun sulit dan rumitnya–ternyata hanya merupakan kulit terluar dari yoga. Bagaimana bagian yang paling kecil dan mudah untuk diabaikan ternyata adalah bagian yang penting untuk saya latih.

“It’s what you do in the dark, that puts you in the light”

 

Yang kemudian saya ketahui belakangan, teman saya itu bahkan tidak menyadari bagaimana ia bernapas. Ketika saya menjelaskan apa yang saya lihat, dengan gayanya yang tetap cengengesan ia malah bertanya balik kepada saya: ‘Ngomongin apa sih lo, Syn?’ Lalu ia menertawai saya terbahak-bahak–seakan-akan penemuan saya tadi sangat konyol dan tidak berguna.

Saya tidak tahu apakah dia memang begitu rendah hati, saya yang lebay, atau memang pada dasarnya dia terlalu cengengesan untuk menyadari betapa briliannya dirinya sendiri. Yang saya tahu, saya masih harus belajar dan memperbaiki banyak hal–baik yang sudah saya sadari maupun yang belum.

 

1minggu1 cerita

Leave a Reply