#GOALS

cita-cita

Semakin bertambah usia, cita-cita saya semakin… realistis–kalau tidak mau disebut rendah. Bukan berarti mengerdilkan diri sendiri, tapi saya makin malas berpikir terlalu jauh, dalam rentang waktu puluhan tahun, untuk membayangkan apa yang ingin saya capai secara pribadi. Tentunya masalah pengembangan usaha adalah cerita yang lain lagi, ya. Tapi secara pribadi, bisa dibilang sekarang saya sudah tidak punya cita-cita lagi… selain menjadi sehat.

Selama beberapa tahun terakhir, jika sampai ke pembahasan mengenai cita-cita dan apa yang ingin saya capai dalam hidup, saya selalu menjawab begini:

Cita-cita saya adalah menjalani hidup yang selalu berproses.”

Jawaban itu masih berlaku sampai sekarang. Karena itu, setiap bangun di pagi hari saya masih selalu berusaha agar hari yang baru ini menjadi lebih baik daripada hari-hari sebelumnya. Termasuk tentang olah raga, lari, yoga, dan sisi bugar hidup saya yang lainnya.

Dalam hal lari, misalnya. Sebagaimana para penyuka olah raga lari jarak jauh lainnya, tentu saya selalu berusaha memperbaiki catatan waktu saya. Kalau untuk yoga, tentu saya terus berlatih untuk mengasah kemampuan saya menguasai asana-asana baru atau memperbaiki cara saya melakukan suatu asana.

Tentu saja pada awalnya saya sendiri sering sekali bertanya pada diri saya: apakah proses yang saya kerjakan ini semata-mata hanya ambisi pribadi atau memang adalah bagian dari rencana yang lebih besar? Kalau meminjam istilah teman-teman saya yang dulu suka mengomentari kebiasaan olah raga saya dengan sinis, saya sering bertanya pada diri saya sendiri: ‘Apa sih yang dicari dari ini semua? Mau jadi apa sih lo, Syn?’

Mencari Sehat

Bukan, tujuan akhir saya bukan medali emas Olimpiade di cabang olah raga yoga (karena memang nggak ada cabang olah raganya 😆 ). Cita-cita saya singkat, kok. Saya cuma pengen bisa tetep lari dan beryoga, tidak peduli berapapun usia saya. Ya, kurang lebih seperti sosok Iron Nun ini:

Saya cuma pengen bisa tetep lari dan beryoga, tidak peduli berapapun usia saya.

Masalahnya, saya sangat menyadari keterbatasan tubuh saya. Ketika tubuh saya berada dalam kondisi ‘sulit’, kemampuannya untuk dapat melakukan hal-hal bersifat fisik semakin berkurang. Bukan berarti menjadi semakin reyot atau lemah, tapi semakin sulit untuk mentoleransi aktivitas fisik yang tidak biasa dilakukan. Hmmm, atau mungkin lebih tepat dikatakan kemampuan adaptasinya semakin berkurang? Anyway, ini bukan hanya akan terjadi ketika saya tua nanti, tapi sudah terasa ketika saya dalam kondisi-kodisi ‘khusus’, seperti berpuasa, masa penyembuhan dari sakit, bahkan saat saya sempat hamil tahun lalu–meskipun hanya sebentar.

Karena itulah, saya memilih untuk beradaptasi dengan aktivitas fisik yang saya sukai sejak sekarang-sekarang ini. Saya sadar bahwa tidak ada cara lain untuk mempersiapkan kebugaran di hari tua selain dengan membiasakan berolah raga sejak sekarang. Jadi, kalau saya sering berlari, itu bukan karena saya ingin menjadi seperti Agus Prayogo, tapi supaya jantung saya terbiasa berdetak cepat. Kalau saya beryoga setiap hari, bukan karena saya pengen bisa jalan-jalan di mall dalam posisi handstand, tapi supaya otot-otot saya terbiasa diperlakukan sebagai sesuatu yang kuat dan fleksibel.

Slow. But Surely, Sustainable

Karena cita-cita saya cukup simpel, saya pun juga ‘tersadarkan’ untuk tidak terlalu berambisi dalam hal performa berolah raga. Maksudnya, saya cukup irit mengeluarkan usaha untuk melakukan latihan yang intensitasnya jauh lebih tinggi daripada kemampuan saya. Betul, latihan yang ‘berat’ sangat efektif untuk meningkatkan fitness level–baik dalam wujud VO2Max maupun muscle strength & endurance. Tapi yang sering terjadi adalah ketika saya terlalu jor-joran dalam latihan, untuk beberapa lama setelahnya saya seperti kehilangan motivasi samasekali untuk berlatih. Saya tidak menginginkan ini.

Tapi yang sering terjadi adalah ketika saya terlalu jor-joran dalam latihan, untuk beberapa lama setelahnya saya seperti kehilangan motivasi samasekali untuk berlatih.

Saya memilih jalur yang lebih santai dan tentu kembali pada cita-cita saya yang paling sejati, yaitu menikmati setiap prosesnya. Saya lebih memilih konsisten berolah raga meskipun dalam intensitas yang manageable daripada memaksa tubuh saya melakukan latihan yang ‘berat’ lalu kemudian mendapat pembenaran untuk beristirahat dalam waktu yang lama.

Progres saya–baik dalam lari maupun yoga–adalah progres yang lambat. Tapi berhubung garis finish saya memang masih jauh, saya merasa bersyukur atas kelambatan ini. Banyak yang bisa saya pelajari sambil bergerak dengan lambat seperti sekarang. Afterall, instead of a sprint, it’s always a marathon for me, indeed 🙂 .

 

1minggu1 cerita

Comments

    1. Post
      Author
  1. anil

    ikutin lomba ih synnnnnn~

    *hadiah dari lomba mah motipasi tambahan aja, tapi kalo diposting (ulang) di kompasiana teh, peluang untuk ngomporin orang lebih besarrrr*

    1. Post
      Author

Leave a Reply