Tentang Suami Sendiri

fikri

Saya memiliki banyak alasan untuk mencintai Fikri–suami saya. Tapi salah satu alasan yang paling besar adalah karena dia selalu membuat saya merasa berharga.

Saya kenal Fikri sejak sebelum saya resmi menjadi mahasiswa. Waktu itu, Fikri cukup akrab dengan kakak saya. Dan karena saya dan kakak saya memang akur–bahkan memiliki banyak kemiripan selera–tidak butuh banyak usaha sampai akhirnya saya juga akrab berteman dengan Fikri, bahkan dengan adiknya juga.

Sejak dulu, image Fikri di mata saya selalu sama: cerdas dan cuek. Khas anak band, atau lebih tepatnya khas anak ITB yang nge-band. Tidak pernah terpikir di kepala saya untuk pacaran sama Fikri karena dia juga tidak pernah berpikir untuk pacaran sama saya. Kami bertemu hampir setiap hari karena kebetulan kami suka nongkrong di sekretariat unit yang sama, tapi setiap kali bertemu, kami lebih banyak ngetawain orang lain daripada ngobrol.

kami pun lebih sedikit menertawai orang lain, dan lebih banyak beneran ngobrol berdua

Lima tahun sejak pertama kali kami berkenalan, tiba-tiba saya dan Fikri jadi intens berkomunikasi. Dan karena komunikasi ini terjadi via SMS dan Yahoo! Messenger–bukan di sekre unit yang ramai dengan banyak orang–kami pun lebih sedikit menertawai orang lain, dan lebih banyak beneran ngobrol berdua. Fikri jadi tahu bahwa saya waktu itu sedang mulai menggiatkan diri berolah raga, dan saya jadi tahu bahwa Fikri ternyata memiliki sifat yang jauh dari cuek.

Di usia awal 20 tahunan, saat sebagian besar teman-teman saya sedang asyik-asyiknya menyibukkan diri dengan dunia kerja, saya sempat merasa cukup terasing. Bukan karena saya tidak bekerja, tapi karena saya jatuh cinta pada hal yang bukan merupakan bagian dari pekerjaan saya.

Saya jatuh cinta pada olah raga–pada yoga, bersepeda, lari, dan banyak lagi–dan hal ini tidak selalu membuat teman-teman saya senang. Beberapa orang secara straightforward menyebut saya kurang kerjaan dan beberapa yang lainnya menyebut saya hanya ikut-ikutan tren lari yang sedang marak. Saat itu, saya merasa hobi baru saya adalah ‘cobaan’ yang membuat saya terlihat aneh di mata teman-teman saya.

Suatu sore, saat menjelang jam pulang kantor, seperti biasa Fikri me-message saya. Saya ceritakan bahwa hari itu kantor saya sedang sangat menyebalkan dan saya ingin pulang teng-go. Saya tidak pernah lupa kalimat yang saya dapat dari Fikri setelahnya:

“Ya udah, mending pulang buruan terus lu berenang. Siapa tau jadi segeran.”

Sejak SMP, dia memang sudah menetapkan pilihannya pada gitar dan musik, bukan basket atau olah raga lainnya.

Fikri bukan tipe laki-laki yang sporty, meskipun dia sangat menikmati saat-saat bermain futsal dengan teman-temannya. Dia bisa menikmati berlari mengelilingi track di Saraga, tapi tidak pernah berpikir untuk mengikuti Full Marathon. Sejak SMP, dia memang sudah menetapkan pilihannya pada gitar dan musik, bukan basket atau olah raga lainnya. Meskipun begitu, dia adalah satu dari sedikit orang di sekitar saya yang saat itu mau menerima saya sebagai orang yang menemukan kebahagiaan ketika berolah raga–meskipun selama bertahun-tahun kami saling mengenal, tidak pernah satu kalipun dia melihat saya berolah raga.

Mungkin karena Fikri adalah orang yang sangat setia pada apa yang membuatnya merasa passionate, jadi dia sangat mendukung orang lain untuk memperjuangkan passion mereka. Dan inilah yang Fikri lakukan pada saya selama ini. Tanpa memaksa membentuk saya menjadi sosok wanita yang ideal menurutnya, dia selalu ‘memaksa’ saya untuk menjadi diri saya sendiri–meskipun terkadang saya juga masih bingung siapa saya sebenarnya. Kalau saya tidak dipertemukan dengan Fikri, mungkin saya masih malu dan merasa aneh karena menyukai olah raga.

Dari sekian banyak hal yang membuat saya jatuh cinta pada Fikri, satu yang terpenting adalah dia membuat saya merasa berharga sebagai diri saya sendiri. Dan dari dia juga saya belajar untuk merayakan keberhasilan siapapun, untuk ikut berbahagia saat orang lain berbahagia. Karena jika kebahagiaan seseorang menjadi kebahagiaan saya juga, mungkin dunia ini akan lebih mudah untuk tersenyum bersama.

 

Namasté 🙂

Jakarta Marathon 2015
Jakarta Marathon 2015

PS: Percakapan ‘serius’ pertama kami di Yahoo!Messenger terjadi lima tahun lalu, tanggal 30 Oktober, saat saya baru pulang dari bersepeda bersama teman-teman kuliah saya di Car Free Day Jln. Jend. Sudirman. Foto di atas diambil tahun lalu, tanggal 25 Oktober, saat dia menunggu saya berjam-jam di gerbang finish saat Jakarta Marathon.

Tulisan ini dibuat untuk merayakan dua hal tersebut, momen-momen ajaib dalam hidup saya 🙂

 

1minggu1 cerita

Comments

      1. Post
        Author
  1. Reytia

    Haa yahoo messengger dan sms.. Gadget pendekat aku dan suami juga haha (ketauan bgt pacaran taun lawas yak) xD

    Anw, it’s good to be healthy. Mending lari sm yoga daripada diem2 diabet terus sakit jantung 😐

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  2. Diani

    so sweeet <3 Gw jadi inget pas kita ikutan KOTR trus si Fikri (sama Panji) jadi Smoker Runner bwahahahah :))) liat Pas Fikri dateng event itu, that's one of the sweetest moment that you've spent together kata gw ;D

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  3. Vidy

    “cerdas” salah satu faktor yang membuat saya gak bisa bilang enggak sama suami….enam tahun berumah tangga, selalu punya solusi cerdas untuk semua permasalahan kami hahaaay…

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  4. Pingback: [Giveaway!] Kembali Bersepeda - DYAHSYNTA

  5. Pingback: Menuju Puncak - DYAHSYNTA

  6. Pingback: Saya Tidak Punya Kampung Halaman - DYAHSYNTA

Leave a Reply