Pengalaman Seputar Alergi dan Menemukan Obat Sebagai Solusi

obat alergi

Di tahun kedua kuliah, saya sempat mengalami suatu reaksi alergi terhadap makanan yang cukup membuat saya kapok. Ketika itu, saya dan dua orang teman saya harus mencari bahan baku untuk membuat tugas. Di perjalanan, kami memutuskan untuk mampir ke sebuah pusat perbelanjaan untuk makan siang. Saya memesan satu set menu makanan yang berisi nasi dan beberapa lauk, salah satu di antaranya adalah udang yang berbalut tepung. Seingat saya, makanan itu rasanya cukup enak.

Saya ingat sekali ketika itu kami sedang berada di bagian perlengkapan kamar mandi di sebuah toko perkakas karena salah seorang teman saya sedang beradegan pura-pura mandi sambil menjadikan kepala shower sebagai mikrofon. Saat itu, saya sudah mulai beberapa kali mengusap mata kanan saya yang tiba-tiba terasa gatal sekali. Melihat ini, teman saya pun menanyakan keadaan saya.

Saya melihat ke arahnya dan meminta tolong pada dia untuk melihat apakah ada sesuatu di mata saya. Tapi bukannya memperhatikan mata saya, teman saya ini malah memekik ketakutan. Katanya, kelopak mata saya membesar alias bengkak.

Tapi bukannya memperhatikan mata saya, teman saya ini malah memekik ketakutan.

Kami tetap melanjutkan perjalanan, namun saya memutuskan untuk tetap diam di dalam mobil. Sekitar satu jam kemudian, saya diantar pulang dengan wajah yang sudah tidak karuan. Saya ingat asisten rumah tangga saya saat itu juga menjerit ketika membukakan pintu. Muka saya memang sudah hampir tidak berbentuk.

Berhati-hati Terhadap Reaksi Alergi

Pengalaman saya beberapa tahun yang lalu itu membuat saya cukup berhati-hati terhadap reaksi alergi. Saya memang mengetahui beberapa hal yang bisa memicu tubuh saya untuk mengeluarkan reaksi yang kurang normal, seperti debu, udara dingin, dan–tentunya–udang yang kondisinya kurang baik. Karena itu, saya selalu berusaha menyimpan obat alergi dan inhaler asma di tempat yang paling mudah saya jangkau dan selalu saya bawa ke mana-mana: di dalam pouch ini. Paling tidak, kapanpun reaksi alergi saya muncul, saya sudah siap mengatasinya.

Nah, siang tadi, saat saya sedang menunggu antrian di Poli Bedah Mulut dan mengorek-ngorek ke dalam pouch untuk menemukan sesuatu sambil mengisi kejenuhan, saya menemukan obat alergi ini. Mungkin karena kebetulan sedang berada di lingkungan yang sangat kental dengan suasana medis, saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai alergi. Saya pun mengeluarkan handphone dan mulai meng-Google segala jenis kata kunci yang berkaitan dengan obat alergi.

Dari beberapa artikel yang saya baca, saya pun menemukan korelasi antara yoga, olah raga, dan reaksi alergi. Olah raga–yang sangat baik untuk memperbaiki kondisi kekebalan tubuh–memang diyakini bisa mencegah terjadinya reaksi alergi. Selain itu, karena yoga dan olah raga juga baik untuk mencegah stres, maka secara tidak langsung juga membuat tubuh dapat berfungsi lebih optimal–termasuk dalam melindungi diri dari alergen. Informasi lebih lanjut mengenai ini bisa dibaca di sini: [link].

Pengetahuan Seputar Obat Alergi Loratadine dan Cetrizine

Artikel lain yang juga menarik untuk saya adalah tentang perkembangan seputar obat alergi itu sendiri. Selama ini, pengetahuan saya seputar obat alergi hanya terbatas pada dua nama yang paling sering digunakan oleh sahabat dan ibu saya. Keduanya memiliki satu kesamaan, yaitu membuat penggunanya mengantuk luar biasa.

Ketika saya menemukan dua nama baru, yaitu Loratadine dan Cetirizine, saya pun melongo. Ternyata inilah solusi yang diberikan oleh ilmu pengetahuan untuk permasalahan antara saya dan obat alergi. Dua obat ini tergolong antihistamin generasi kedua yang efek kantuknya lebih minim. Artinya, meskipun sedang terserang alergi, akan tetap memungkinkan bagi penggunanya untuk beraktivitas seperti biasa–termasuk berolah raga.

Mungkin, seperti halnya yoga, dunia obat-obatan dan kedokteran juga terus-menerus berinovasi untuk memecahkan persoalan manusia yang semakin kompleks. Kalau saya meyakini bahwa setiap individu dapat memiliki preferensinya masing-masing untuk menentukan yoga–atau bahkan jenis olah raga–yang cocok untuk dirinya, maka mungkin saja solusi obat alergi untuk saya ternyata berbeda dari sahabat atau ibu saya sendiri.

Sampai detik ini, setiap kali berhadapan dengan sajian udang, saya masih suka bergidik. Tapi mudah-mudahan dalam waktu dekat saya bisa kembali menikmati udang mayones dan tempura dengan bahagia, ya 😀

 

Namasté 🙂

 

Leave a Reply