Terima Kasih, Angga

profesi

Weekend kemarin, saya menghabiskan banyak waktu dengan Rafa, keponakan saya yang sedang menunggu saat-saat menjadi kakak. Selain menemani dia menonton Paw Patrol, saya sempat kena ‘todong’ diminta membacakan beberapa buku cerita. Kebetulan, di rumah ibu saya memang masih banyak buku cerita peninggalan masa kecil saya dan kakak saya.

Salah satu buku yang saya bacakan adalah buku favorit saya ketika masih kecil. Ceritanya tentang toko pizza milik seekor beruang bernama Barni–yang merupakan terjemahan dari nama ‘Barney’. Dalam buku ini, Barni melatih beruang lain yang adalah calon asistennya. Di versi aslinya, nama calon asisten ini adalah ‘Angelo’, namun di versi terjemahan yang saya miliki, namanya menjadi Angga 😆

Barni mengajarkan Angga beberapa hal dasar tentang membuat pizza–mulai dari membuat adonan, mengaduk saus, sampai menerima kedatangan para pemasok keju, sosis, dan jamur. Sayangnya, Angga yang benar-benar minim pengalaman selalu saja melakukan kesalahan yang membuat Barni nyaris putus asa. Adonan pizza buatan Angga terlalu encer sampai tidak bisa diuleni, Angga malah tercemplung masuk ketika diajari mengaduk saus tomat di dalam panci besar, dan ketika diajak mengolah adonan pizza menjadi bulat pipih, Angga malah menjatuhkan adonan ke kepalanya sendiri. Belum selesai kesialan Barni, hari itu Dominik–pelayan tokonya–mendadak tidak kunjung datang dan tak bisa dihubungi. Barni pun terpaksa meminta Angga untuk menggantikan Dominik menjadi pelayan tokonya.

Salah satu kepusingan Barni. Sumber: www.difioribooks.com/books.html

Tanpa diduga, Angga yang seharian itu membuat Barni pusing ternyata sangat mahir dan luwes dalam menjadi pelayan toko. Toko pizza yang ramai dipenuhi pengunjung pun bisa dikuasai dengan mudah oleh Angga. Di akhir cerita, Barni akhirnya merekrut Angga sebagai pelayan toko, bukan sebagai asisten.


Cerita itu meninggalkan kesan tersendiri untuk saya dan Rafa. Bagi Rafa, entah nama atau tokoh Angga ternyata sangat menarik perhatiannya, akibatnya ia langsung mencetuskan ide untuk menamai calon adiknya dengan nama tersebut. Untuk saya sendiri, cerita ini mengingatkan saya akan kegalauan saya beberapa tahun terakhir–dalam menentukan karier dan profesi.

Karena terlahir dari orang tua yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaan masing-masing, saya tidak pernah memiliki pikiran untuk berkarier atau menjalani profesi yang tidak sejalan dengan jalur akademik saya. Ditambah lagi, karena ibu saya adalah seorang psikolog, sejak kecil saya sudah terbiasa dengan rangkaian tes yang menganalisa bakat dan minat saya. Pemilihan jurusan di SMA dan kuliah pun saya sesuaikan dengan hasil tes yang tidak hanya 1-2 kali saya jalani.

Mungkin karena itu, secara tidak sadar, saya merasa bersalah pada diri saya sendiri ketika merasa sangat tertarik untuk menjalani pekerjaan di bidang yoga dan olah raga. Saya merasa mengkhianati pendidikan akademis yang sudah saya lewati untuk menjadi seorang desainer produk–profesi yang sampai saat ini sebenarnya masih sangat keren di mata saya. Memang sampai sekarang saya masih bertanggung jawab atas perkembangan LANA dari sisi kreatif, tapi tidak bisa saya hindari, saya juga semakin menikmati titel dan pekerjaan saya sebagai pengajar yoga.

Mungkin bisa dikatakan rasa bersalah saya karena mengkhianati gelar sarjanalah yang menahan saya dari serta merta ‘mencemplungkan’ diri saya di dunia yoga dan olah raga. Apalagi saya memang tipe orang yang memiliki minat yang banyak dan mudah tertarik pada sesuatu yang baru. Karena merasa harus benar-benar yakin dulu pada pilihan profesi yang baru, maka proses ‘putar balik’ ini berjalan pelan-pelan, dengan LANA sebagai jembatan antara keduanya–sehingga saya sedikit tertolong dari rasa bersalah.

Saya menjalani apa yang dilewati oleh Angga–dilatih sedemikian rupa untuk suatu pekerjaan, namun tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa hal yang terasa alami lah yang akhirnya bisa saya lakukan dengan baik. Terus terang, sejak dulu saya lebih bisa menikmati beryoga, berlari, dan bersepeda setiap hari daripada mengulik software 3D modeling atau desain.

Uraian saya selanjutnya mungkin akan terdengar seperti pembenaran, tapi jika seseorang saat ini menanyakan kepada saya apakah saya masih merasa berkhianat karena menjalani profesi yang tidak sejalan dengan pendidikan S1 saya, saya akan berkata, ‘Tidak.’ Mungkin kalau saya tidak memilih jurusan kuliah Desain Produk, saya tidak akan belajar untuk lebih peka terhadap perasaan saya–dan yang lebih penting, terhadap kebutuhan klien saya saat beryoga. Justru sekarang saya merasa semua pengalaman saya memang membimbing saya untuk mengajar yoga 😀

Dari yang semula merasa bahwa memiliki profesi yang matching dengan gelar S1 adalah sebuah keharusan, sekarang keyakinan saya justru lebih condong pada dua hal. Pertama, bahwa semua ilmu pasti bermanfaat untuk profesi apapun–hanya saja cara pengaplikasiannya memang mungkin berbeda-beda. Kedua, saya percaya bahwa semua manusia bisa menjadi apa saja yang mereka inginkan. Dan justru karena saya bisa menjadi apa saja yang saya inginkan, saya tidak ingin menjadi pembohong bagi hati kecil saya sendiri.

 

Namasté 🙂

 

PS: Beberapa jam setelah saya bacakan cerita itu, Rafa menemukan ide lain untuk nama calon adiknya dari channel Nick Jr. Jadi, calon keponakan saya itu belum tentu akan dinamai Angga 😀

Leave a Reply