Lost and Found

cimit

Mungkin suatu hari nanti saya akan mengalami sesuatu yang membuat saya berhenti beranggapan bahwa hidup ini lucu. Tapi untuk saat ini–dan paling tidak sampai beberapa saat ke depan–sepertinya saya masih akan beranggapan demikian.

Mungkin semua dimulai saat saya mengenal seseorang. Saya dan Fikri memanggilnya dengan nama Cimit, karena ketika pertama kali kami melihatnya, dia kecil sekali. Di antara sekian banyak orang di sekitar saya yang beranggapan bahwa suara saya cempreng dan tidak layak dengar, Cimit adalah yang pertama yang selalu menjadi lebih tenang setiap kali saya bernyanyi. Selama kurang lebih tiga bulan, Cimit adalah anak yang selalu menemani saya setiap saat dari dalam rahim saya. Dan selama itu, setiap kali saya bernyanyi, dia selalu menjadi tenang. Mungkin dia lebih paham bagaimana jantung saya berdetak daripada saya sendiri.

Kebersamaan kami harus disudahi di minggu keempatbelas karena Cimit yang saat itu sudah tumbuh menjadi lebih besar ternyata tidak berkembang sempurna. Pertumbuhan Cimit normal, sesuai dengan janin seusianya, tapi sayang dinding perutnya tidak sempurna. Jantung, usus, dan hatinya terburai. Saat itu saya hanya bisa melihat melalui layar, tapi saya menyaksikan sendiri bagaimana jantung kecilnya berdenyut di luar tubuhnya. Pemandangan yang masih membuat mata saya berair setiap kali saya mengingatnya.

(Lebih detail tentang gastroschisis ectopia cordis bisa dibaca di sini: [link])

Kebersamaan saya dan Cimit sangat singkat, tidak sampai empat bulan. Kalau dibandingkan, ketika empat bulan pertama mengenal Fikri, saya masih tidak tahu apa-apa tentang dia. Saya juga tidak tahu apa-apa tentang Cimit, tapi bedanya, empat bulan bersama Cimit berhasil menumbuhkan perasaan yang lebih dari sekedar sayang. Saya tidak pernah mengeluarkan air mata sebanyak ketika saya sadar saya harus berpisah dari dia.

Satu minggu setelah kami resmi berpisah, saya menemani Fikri mencari sarapan ke Jln. Gempol. Waktu itu, saya dan Fikri masih berada pada fase hampa. Kami sudah beraktivitas seperti biasa, tapi sepertinya semua berjalan secara auto-pilot. Sambil berjalan kaki dari parkiran ke tempat kupat tahu, saya dan Fikri bergandengan, lalu saya mengeluarkan kalimat ini:

“Aku sekarang sadar kalo ‘rencana’ itu bener-bener bukan bagian yang penting dari hidup. Kita nggak pernah berencana untuk hamil, tapi nyatanya waktu aku tiba-tiba hamil, kita ngerasa bahagia juga. Terus sekarang tiba-tiba aku udah nggak hamil lagi, dan kita kembali lagi ke hidup yang kita anggap normal dan ‘sesuai rencana’. Ternyata tetep aja kita sedih banget.

Mungkin karena sejak itu kami belum berpikir untuk hamil lagi, sampai sekarang kejadian tersebut masih sangat berbekas pada saya. Bukan, kami bukan merasa trauma atau kapok. Tapi secara medis memang masih ada hal yang harus saya dan Fikri bereskan. Paling tidak, kami ingin menekan sekecil mungkin segala probabilitas kami kembali mengalami kejadian yang sama. Bukan, kami bukan tidak siap kehilangan. Kami hanya tidak suka merasa menyesal karena tidak mengusahakan yang terbaik.

Tapi segala sesuatu yang ‘terbaik’ bukanlah hak saya untuk menentukan. Karena itu saya hanya bisa berusaha menjadi lebih baik, setiap saat. Sampai akhirnya, hari ini, saya menjadi diri saya saat ini.

Kalau disandingkan berdampingan–semacam foto ‘sebelum’ dan ‘sesudah’–banyak sekali hal yang berubah dari ‘Synta’ hari itu dan ‘Synta’ hari ini, dua tahun setelahnya. ‘Synta’ hari itu tidak pernah berpikir untuk berbagi tentang apapun atau mengajar apapun (apalagi mengajar yoga), tidak pernah punya keberanian untuk menuliskan isi pikiran (apalagi isi hati) meskipun di blog sendiri, dan tidak pernah berhenti mengutuki kekurangan diri sendiri. ‘Synta’ dua tahun yang lalu begitu sulit merasa bersyukur, apalagi bahagia.

Karena itulah saya beranggapan bahwa hidup ini lucu, dan mbulet. Bukan mbulet dalam artian ngalor-ngidul dan intinya di situ-situ aja, tapi mbulet dalam artian pergerakannya seperti berada di atas permukaan yang bulat–ketika kita berjalan semakin jauh ke satu arah, pada akhirnya kita akan muncul kembali dari arah yang benar-benar sebaliknya. Dalam kejadian yang saya alami, ketika saya dipaksa merasakan kehilangan yang paling menyakitkan dalam hidup saya, lama-lama justru saya menemukan diri saya yang lebih bahagia.

Saya memang bukan orang yang tepat untuk membagikan pengalaman membesarkan atau memiliki anak. Tapi saya akan ikut mengiyakan bahwa kita bisa belajar sangat banyak dari anak. Saya bahkan belajar sangat banyak dari kegagalan saya memiliki anak, bayangkan akan sebanyak apa yang bisa saya pelajari ketika membesarkan seorang anak.

Satu yang benar-benar membuat saya merasa ‘belajar’ adalah ketika saya menyadari bahwa bersyukur atau tidak adalah pilihan. In fact, seluruh emosi yang berlarut-larut adalah pilihan. Dua tahun yang lalu, saya bisa memilih untuk merasa menjadi perempuan paling malang di dunia atau untuk bersyukur karena didampingi oleh suami yang luar biasa kuat dan tidak pernah berhenti menguatkan saya. Saya bisa memilih untuk merasa iri pada teman-teman yang sudah memiliki anak atau untuk ikut berbahagia dan menenangkan mereka, meyakinkan bahwa mereka pantas untuk berbahagia, meskipun mereka merasa menjadi gendut atau terlalu lelah untuk berdandan. Saya bisa memilih untuk menjadi terobsesi akan memiliki anak dan menomorduakan hal-hal lainnya atau untuk menerima bahwa ini adalah saatnya saya menjadi bermanfaat untuk orang lain, sebelum menjadi bermanfaat untuk anak saya sendiri. Saya bisa memilih untuk fokus pada kesedihan kehilangan anak–satu hal yang gagal saya miliki–atau fokus mensyukuri keberadaan sahabat-sahabat, keluarga, guru, dan semua orang-orang luar biasa yang ada di sekeliling saya.

Saya selalu merasa bahwa Cimit mengamati saya dan Fikri, menunggu saatnya kami ‘pulang’ dan kembali berkumpul bersama dia. Karena itu saya ingin membuat dia selalu tersenyum. Mungkin Cimit masih jauh dari merasa bangga pada ibunya yang garing dan suka mengeluarkan pelesetan-pelesetan yang ngeselin ini. Tapi paling tidak, saya ingin Cimit tahu bahwa keberadaan dia tidak pernah saya anggap tidak ada. Bahwa saya tidak pernah berhenti mensyukuri kebersamaan kami.

Foto Cimit yang terakhir, dan medali yang saya ‘carikan’ untuknya.

 

Namasté 🙂

Comments

    1. Post
      Author
  1. Meta

    Seriously, what’s in the current air? I too am dealing, reflecting, sending gratitude of my own loss. Walaupun mungkin dimensi nya jauh berbeda dengan apa yang Synta alami. Again, thank you for sharing and so much love to you.

    1. Post
      Author
      Dyahsynta

      Seriously, why do we keep feeling the same thing at the same time? :Lol: Thanks Meta. If there’s anything I learned by this, is that loss is necessary. It truly humbles us. Love you more :*

  2. celina2609

    Teteh.. terima kasih ya sudah berbagi.. Pengalamannnya mungkin berbeda..tapi kesedihan dan rasa kehilangannya sama.. dan tulisan ini jadi self reminder buat aku..
    Keep strong ya Teteh.

    1. Post
      Author
  3. Marini

    Ah tehsyn…
    Mereka memang sedang menunggu kapan kita akan pulang dan berkumpul lagi..
    Semoga alloh mampukan kita menebarkan banyak manfaat…T_T

    Supaya ketika pulang kita membawa bekal.

    Peluk untukkmu tehsyn

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  4. amellina

    Pelukk, pelukk.. Pasti ngga gampang nulis ini ya Syn.. Tapi Cimit pasti tersenyum liat ibunya banyak berbagi kebaikan untuk orang lain.. Kukirim cium dan doa ke Cimit di langit 🙂

    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
    1. Post
      Author
  5. Pingback: Catatan tentang Perubahan - DYAHSYNTA

Leave a Reply