Ahimsa dan Berlian

berlian

Salah satu elemen yang mengisi sebagian besar masa kecil saya adalah komik. Saya dan kakak saya serta teman-teman masa kecil kami menghabiskan banyak waktu dengan berjilid-jilid buku komik buatan komikus asal Jepang dari berbagai genre. Favorit saya adalah komik-komik drama karangan Yu Asagiri dan serial misteri karangan Chie Watari, tapi selain itu, saya juga melahap habis komik-komik milik kakak saya–seperti Kenji, Shoot!Kung Fu BoyDragon Ball, Kotaro, dan lain-lainnya. Satu judul yang masih membuat saya setia mengunjungi toko buku sampai hari ini adalah Detektif Conan, meskipun sampai jilid 90-an masih belum juga ada tanda-tanda Shinichi Kudo akan kembali.

Karena kecintaan pada komik inilah, saya senang sekali ketika muncul berbagai komik strip di media sosial. Mulai dari komik strip dengan jokes ‘receh’ sampai yang menceritakan dinamika berumah tangga dapat dengan mudah saya akses kapan saja. Saya pun memiliki beberapa komik favorit yang saya ikuti setiap episodenya di LINE WebToon.

Dari sekian banyak komik strip yang pernah saya baca, ada satu komik bertema Islam yang sempat cukup ‘menampar’ saya. Di komik tersebut divisualisasikan seseorang menimpuk orang lain dengan sebutir berlian. Orang yang tertimpuk tepat di bagian belakang kepala ini pun lalu bereaksi dengan marah karena kesakitan–tanpa mempedulikan bahwa ia telah ‘diberi’ sebutir berlian. Meskipun lupa kata-kata persisnya, sampai sekarang saya masih ingat pesan utama yang disampaikan melalui komik strip tersebut–bagaimana setiap kebaikan sebaiknya disampaikan melalui cara yang baik pula.


Weekend kemarin, saya berkesempatan menambah pengetahuan seputar yoga lewat seorang guru yang sudah tersohor di Indonesia–Deera Dewi (@deeradewi). Beliau sudah banyak sekali menangani berbagai jenis murid dan sudah menelurkan beberapa pengajar yoga yang tidak main-main kualitasnya. Sungguh sebuah kehormatan untuk bisa secara langsung memperoleh waktu dan banyak berbagi dengannya.

Modul kami selama tiga hari kemarin berjudul “Deepening Your Asanas”, yang menurut saya sangat esensial untuk dipelajari oleh siapa saja yang menyukai yoga. Tapi berhubung modul ini dibuat sebagai lanjutan dari 200 Hr Teacher Training Course yang diadakan oleh Kirana Yoga School [link], memang menurut saya, sebaiknya para peserta sudah pernah mengikuti TTC sebelumnya–baik berupa 200Hr maupun TTC lain yang sejenis.

Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa asana adalah salah satu ‘media’ utama saya sebagai pengajar yoga untuk bisa memahami murid-murid saya dengan lebih baik.

Saya sendiri tidak pernah menganggap bahwa asana adalah unsur terpenting dari yoga. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa asana adalah salah satu ‘media’ utama saya sebagai pengajar yoga untuk bisa memahami murid-murid saya dengan lebih baik. Karena menyadari itulah, saya memutuskan untuk mengambil modul ini–tentu dibarengi kesadaran penuh bahwa tidak berarti di hari terakhir saya akan langsung bisa melakukan handstand dengan mudah dan tanpa usaha.

Tanpa saya sangka, di hari ketiga, saya justru pulang dengan membawa satu pemahaman yang–menurut saya–sama krusialnya dengan kemampuan melakukan handstand.

Deera Dewi beberapa kali mengulang-ulang sebuah kalimat sejak morning practice kami di hari pertama. Lewat kalimat tersebut, ia mengharapkan para peserta untuk tidak memaksakan tubuh kami melewati batas kemampuan hanya demi bisa melakukan asana tertentu. Namun di saat yang sama, ia juga meminta kami untuk tidak menyerah sebelum mencoba suatu asana hanya karena berprasangka buruk pada tubuh sendiri.

Deera Dewi juga mengingatkan kembali bahwa dalam yoga, ajaran yang mendahului asana adalah tanggung jawab sebagai makhluk sosial dan disiplin pribadi. Salah satu poin dari ajaran ini adalah ahimsa–antikekerasan. Dan menurut Deera Dewi, salah satu kata kunci yang penting terkait dengan ini adalah ‘care’ alias kepedulian. Karena pada dasarnya, setiap perilaku kekerasan hanya akan menimbulkan ketakutan, kelemahan, kegelisahan, dan–pada akhirnya–ketidakpedulian.

Sepertinya ajaran inilah yang dipegang kuat oleh Deera Dewi setiap kali ia mengajarkan suatu asana. Karena itu, ia berulang kali menyampaikan pada kami:

“Perlakukanlah tubuh dengan bijaksana.”


Saya selalu beranggapan bahwa beryoga–dan berolah raga pada umumnya–adalah cara yang baik untuk ‘berkomunikasi’ dengan diri kita sendiri, baik secara fisik, emosional, bahkan sangat mungkin juga secara spiritual. Beberapa kali saya mengistilahkan berolah raga sebagai saatnya saya untuk ngobrol dengan diri saya sendiri, karena memang begitulah adanya. Berolah raga memang melatih kesadaran saya dalam menjadi diri saya sendiri.

Kedua kecenderungan inilah yang seringkali menghilangkan kesadaran saya dalam menerapkan ahimsa.

Sayangnya, salah satu kendala utama saya dalam berkomunikasi adalah sifat saya yang tidak sabaran. Karena sifat ini, saya memiliki dua kecenderungan utama: 1) kurang baik sebagai pendengar, dan 2) mencari ‘jalan pintas’ ketika menyampaikan sesuatu. Kedua kecenderungan inilah yang seringkali menghilangkan kesadaran saya dalam menerapkan ahimsa.

Suara yang lebih lantang, nada bicara yang keras, dan penyampaian yang galak memang sangat efektif untuk membuat apa yang saya sampaikan menjadi lebih terdengar dan diperhatikan oleh lawan bicara saya. Karena itu, seringkali godaan untuk menyampaikan pendapat dengan cara tersebut menjadi pilihan saya untuk menyampaikan sesuatu yang–menurut saya–penting. Contoh yang paling sederhana dan dekat dengan keseharian adalah cara saya mengungkapkan ketidaksukaan pada sesuatu yang suami saya lakukan. Sering sekali saya menyampaikannya dengan nada yang ketus tanpa menyadari bahwa yang saya lakukan itu tidak jauh berbeda dari menimpuk suami saya dengan berlian.

Sebenarnya, saya hanya menghujani diri saya sendiri dengan timpukan berlian.

Itu juga yang terjadi setiap kali saya memaksakan diri untuk menambah jarak lari saya dengan drastis, ketika saya berambisi membalap pengendara sepeda yang ada di depan saya, atau menentukan target hitungan reps yang jauh melebihi kapasitas tubuh saat melakukan circuit training. Tujuan baik untuk meningkatkan kemampuan fisik tubuh saya sampaikan dengan cara yang terlalu sadis, yang–saya kira–akan mempersingkat waktu untuk menjadikan tubuh saya lebih kuat. Sebenarnya, saya hanya menghujani diri saya sendiri dengan timpukan berlian.

Berhubung saya adalah salah satu orang yang mengamini prinsip ‘be the change you wish to see in the world’, sepertinya akan sangat masuk akal kalau saya memutuskan untuk menerapkan prinsip ahimsa dalam ‘berkomunikasi’ dengan diri saya sambil membiasakan diri untuk menerapkannya ketika berkomunikasi dengan orang lain. Selain mengurangi rasa ‘sakit’ dalam hati sendiri dan orang-orang di sekitar saya, saya juga yakin bahwa berlian akan jauh lebih bermanfaat jika dijadikan perhiasan daripada untuk ditimpuk-timpukkan ke sana ke mari.

Terima kasih atas waktu dan ilmunya, Ticer *kisses*

Mari mencoba menjadi orang baik untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Namasté 🙂

1minggu1 cerita

Comments

  1. Pingback: Baik-Baik Saja - DYAHSYNTA

Leave a Reply