Catatan tentang Perubahan

Jika ketika saya terbangun dari Savasana pertama seseorang menanyakan kesediaan saya untuk mempelajari lebih dalam tentang yoga, saya pasti akan cepat menggeleng. Kalau orang tersebut semakin merincikan bahwa yoga bukan hanya sebatas olah raga atau asana, saya malah akan semakin mengerutkan dahi dan menganggap orang tersebut berbicara di frekuensi yang berbeda dari saya–karena dia sudah terlalu dalam menyelami yoga, dan saya hanya si ‘pendatang baru’ yang bahkan masih kesulitan mengingat bagaimana cara berdiri yang tepat di dalam kelas yoga.

Tentunya saat itu saya juga belum bisa membayangkan saya akan bisa menyeimbangkan tubuh dengan hanya disangga oleh kedua lengan saya–boro-boro begitu, setiap kali saya berjumpa dengan gerakan push up di aplikasi N+TC saja saya akan langsung keder dan berwajah masam. Untuk bisa berkata bahwa saya jatuh cinta sejak pertama kali pada yoga pun sepertinya terlalu mengada-ngada, karena ada saatnya saya hanya mampu bertahan di atas matras selama sepuluh menit, lalu menghabiskan sisa waktu di dalam kelas dengan bergerak ogah-ogahan.

Tapi entah mengapa, saya terus kembali lagi ke atas matras untuk berlatih. Mungkin karena saya merasa tertantang untuk bisa melakukan Chaturanga Dandasana, atau mungkin karena saya merasa Savasana adalah waktu istirahat paling menyenangkan yang pernah saya dapatkan, mungkin juga karena saya sebegitu inginnya memiliki tubuh yang ideal. Yang jelas di masa itu hubungan antara saya dengan yoga layak disebut love/hate relationship–masa di mana saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari yoga akan menjadi bagian besar dari keseharian hidup saya.

Yang jelas di masa itu hubungan antara saya dengan yoga layak disebut love/hate relationship.

Sampai sekarang, jika seseorang menanyakan kepada saya bagaimana yoga bisa menjadi unsur utama yang mengisi setiap keseharian saya, ingatan saya pasti kembali ke masa-masa itu. Kalau saya yang saat ini ‘melihat’ kembali ke belakang sih, memang rasanya semua terjadi dengan cepat. Tiba-tiba saja saya hamil [link], tiba-tiba saja saya harus mengikhlaskan kehamilan saya, tiba-tiba saya memutuskan untuk berlari Full Marathon [link], tiba-tiba paha saya cedera, tiba-tiba yoga menjadi satu-satunya olah raga yang bersahabat dengan tubuh saya, tiba-tiba saya merasa menemukan banyak pencerahan melalui yoga, tiba-tiba saya ingin banyak bercerita kepada orang lain tentang kebaikan yoga, tiba-tiba saya ingin mengajarkan yoga kepada orang lain, tiba-tiba saya dipertemukan dengan guru-guru yang tepat, lingkungan yang tepat, teman-teman yang tepat, dan akhirnya, tiba-tiba saya menjadi seperti hari ini.

tiba-tiba saya dipertemukan dengan guru-guru yang tepat, lingkungan yang tepat, teman-teman yang tepat, dan akhirnya, tiba-tiba saya menjadi seperti hari ini.

Iya, kalau diingat dengan lebih rinci, sebenarnya prosesnya tidak berjalan secara tiba-tiba, dan tidak semuanya menyenangkan. Selama melewati fase demi fase itu pun cara saya melihat yoga juga selalu berubah-ubah. Tidak hanya sebagai kelas yang menyiksa, saya juga pernah menganggap yoga sekedar sebagai sesi stretching, dan pernah juga sebagai satu-satunya kesempatan saya untuk bersosialisasi. Sekarang, selain sebagai olah raga utama yang saya lakukan dengan rutin, saya juga menganggap yoga adalah panduan saya dalam berperilaku.

Kok bukan agama, Syn?

Ketika mempelajari filosofi dalam yoga, saya dipertemukan dengan beberapa ajaran dalam istilah Sanskrit. Ajaran-ajaran ini sebenarnya sederhana dan sudah sangat sering saya dengar dalam pelajaran agama maupun PPKn. Tapi, sebagaimana cara pandang saya tentang yoga yang terus berubah, cara pandang saya terhadap poin-poin ajaran moral yang sederhana ini pun tidak selalu sama.

Contohnya, dulu, ketika diajari untuk berlomba-lomba dalam kebaikan oleh agama, sejujurnya saya menganggap itu sebagai hal yang penting-tapi-mungkin-tidak-sepenting-itu. Untungnya, ketika saya diajari makna ahimsa melalui yoga, cara pandang saya demikian besar berubah, sampai ajaran tersebut–bisa dibilang–membuka ‘mata’ saya yang lain, dan akhirnya saya merasa menyesal sekali karena baru bisa memahami ajaran itu saat ini.

Jadi, alasan mengapa yoga lah yang menjadi panduan saya dalam berperilaku saat ini adalah karena saya masih berada di frekuensi yang sama dengan ajaran yoga, yang menurut saya tidak bertolak belakang dengan ajaran agama. Bukan masalah ajarannya, tapi bagaimana saya menerima cara penyampaiannya.

…saya masih berada di frekuensi yang sama dengan ajaran yoga.

Mungkin bisa diibaratkan seperti kata ‘cinta’ yang disenandungkan banyak lagu. Ada band yang membawakannya dengan irama rock, ada juga penyanyi yang melantunkannya dengan menye-menye. Keduanya membawa poin yang sama, tapi para pendengar bisa saja lebih memahami maknanya ketika kata ‘cinta’ itu dibawakan dengan irama yang lebih sesuai dengan telinga dan hatinya.

Sebagaimana proses yang membawa saya ke titik saat ini, saya pun percaya di hari-hari nanti saya akan diberi kesempatan untuk beresonansi dengan cara penyampaian yang lain lagi tentang ajaran-ajaran yang mengetuk hati saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Mungkin melalui cerita dari seorang teman, mungkin juga dari buku, dari pengalaman, atau–kali ini–dari pemuka agama. Yang jelas, saya harus meyakini diri saya sendiri bahwa saya memiliki kemauan untuk menjadi lebih baik, dan tidak menutup kemungkinan untuk menjadi lebih baik. Saya harus menghormati kebutuhan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Bukan karena reward yang akan saya dapatkan di akhir nanti–baik berupa pahala ataupun surga–tapi paling tidak, untuk menghargai diri saya sendiri. Karena saya percaya setiap pribadi memiliki hak untuk menjadi baik, dan hak itulah yang harus selalu kita hargai–terlepas dari cara apa yang kita pilih.

“What you seek is seeking you.” 

-Rumi

Mari terus menghargai cara kita mencari kebaikan 🙂

 

Namasté 🙂

Leave a Reply