Sulitnya Mengenal

mengenal

Beberapa minggu yang lalu, satu hal yang jarang terjadi di dalam rumah tangga saya, terjadi: kami kehabisan gas untuk memasak. Saking jarangnya saya dan Fikri memasak secara ‘serius’, kejadian kehabisan gas ini memang terjadi hanya beberapa kali dalam satu tahun. Dan karena jarang menghadapi situasi seperti inilah, saya jadi sempat bingung saat hendak menyiapkan makanan.

Untungnya, saya dan Fikri memiliki ‘simpanan’ sebuah kompor listrik berukuran kecil. Karena merasa kepepet, akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan kompor listrik yang bahkan sebelumnya tidak pernah kami keluarkan dari box-nya itu.

Pengalaman pertama saya hari itu menggunakan si kompor listrik ini benar-benar bisa dikatakan tidak menyenangkan samasekali. Meskipun sudah ditemani buku petunjuk, saya tetap tidak tahu setting yang harus saya pilih, pada angka berapa suhu kompor tersebut efektif untuk memasak, atau bahkan apa kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi kalau saya salah men-setting-nya. Dari pertama kali kompor tersebut mengeluarkan bunyi bip’ sebagai tanda bahwa ia sudah siap beroperasi, pikiran saya tidak pernah berhenti membayangkan dia akan… meledak 😆

Percobaan pertama saya lakukan dengan merebus air. Setelah saya tunggu sampai 15 menit, tidak kunjung muncul tanda-tanda 500 ml air tersebut akan mendidih. Sambil berusaha menyingkirkan imajinasi bahwa kompor tersebut akan meledak, saya naikkan pengaturan suhunya sampai hampir dua kali lipat.

Dengan kata lain, air masih jauh dari mendidih–ia baru sekedar bruntusan.

15 menit kedua berlalu, mulai muncul titik-titik udara yang akan menguap. Tapi titik-titik udara tersebut hanya seukuran jerawat dan sepertinya tidak ada harapan mereka akan bergerak lepas meninggalkan dasar panci dalam waktu dekat. Dengan kata lain, air masih jauh dari mendidih–ia baru sekedar bruntusan. Mulai tidak sabar, saya coba naikkan lagi suhunya. Perasaan takut bahwa kompor akan meledak masih ada, tapi kali ini saya lebih merasa kesal karena 30 menit saya sudah terbuang percuma, dan tentunya saya merasa sangat menyia-nyiakan listrik yang terus mengalir.

Kejadian ini terus berulang sampai akhirnya saya baru mendapatkan air yang mendidih setelah lebih dari satu jam. Tepatnya, sekitar 75 menit. Bahkan memasak dengan api kecil di atas kompor gas saja tidak pernah butuh waktu selama itu 😆

Setelah hari ‘perkenalan’ itu, saya masih beberapa kali menggunakan si kompor listrik untuk kebutuhan-kebutuhan memasak sederhana (merebus sayur, menceplok telur, dan pastinya… memasak Indomie :p ). Ternyata, setelah menemukan pengaturan yang pas, saya tidak lagi membutuhkan waktu sampai satu jam untuk merebus air atau menghangatkan makanan. Setelah beberapa kali menggunakannya pun saya akhirnya bisa merasa yakin bahwa kompor listrik ini cukup aman dari resiko menimbulkan ledakan yang akan membumihanguskan rumah saya. Pada kali terakhir saya mengoperasikannya, bahkan saya merasa ia menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik, dalam waktu jauh lebih cepat.

Setelah beberapa kali menggunakannya pun saya akhirnya bisa merasa yakin bahwa kompor listrik ini cukup aman dari resiko menimbulkan ledakan yang akan membumihanguskan rumah saya.

Setiap kali saya melihat si kompor listrik menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, saya sering dibuat tersenyum karena berimajinasi mendengar ia berkata kepada saya:

Tuh kan, saya nggak seburuk yang kamu kira.’ 

Kata-kata yang–seingat saya–cukup sering saya dengar di dalam kepala saya sendiri, di kelas yoga.


Saya memang sering lupa bahwa apa yang terjadi di dalam kelas yoga adalah ‘miniatur’ dari kehidupan. Apa yang terjadi antara saya dan si kompor listrik sebenarnya tidak jauh berbeda dari apa yang selalu terjadi setiap kali saya berniat untuk berlatih yoga. Bagian terberat dan tersulit dari keduanya–ternyata–adalah sebelum memulai.

Membayangkan mulai berlatih sepertinya selalu memunculkan ribuan alasan, satu per satu, di dalam kepala saya. Mulai dari bagaimana kualitas tidur saya semalam, apa saja yang saya makan sejak kemarin, tubuh yang terasa lemas, waktu yang sepertinya terlalu mepet dengan agenda selanjutnya, dan banyak lagi. Semua alasan ini masih sering memberatkan langkah saya untuk berdiri di atas matras di hari-hari tertentu. Iya, perasaan ‘malas olah raga’ ini juga saya alami, kok, sama seperti saya mengalami ketakutan pada meledaknya kompor listrik yang akhirnya membuat saya terus menunda-nunda mengeluarkannya dari box.

Seringkali, terlalu mudah bagi saya dalam menemukan alasan untuk merasa takut atau malas, apalagi terhadap sesuatu yang tidak saya kenal dengan baik. Sepertinya memang akan selalu seperti itu, karena–mungkin–rasa takut itu adalah mekanisme perlindungan manusia yang paling sederhana terhadap hal-hal yang tidak dikenali. Dan karena kondisi tubuh saya pun selalu berubah dari hari ke hari, tidak heran kalau setiap harinya saya berhadapan dengan perasaan yang sama–karena belum tentu saya ‘mengenali’ tubuh saya hari itu. Mungkin karena itu jugalah setiap kali menyelesaikan sesi latihan saya selalu merasa senang dan puas–karena saya merasa berhasil menaklukkan ketakutan saya pada diri saya sendiri, sekaligus merasa kembali mengenalnya.

“Tak kenal, maka tak sayang.”

Mungkin saya harus mulai menanamkan peribahasa sejuta umat itu pada keseharian saya. Mungkin, setiap kali saya menemukan hal-hal yang tidak saya sukai, sebenarnya yang perlu saya lakukan hanya mulai mengenalnya lebih dekat. Mungkin benar juga kalau ada yang bilang saya tidak perlu terlalu banyak berpikir untuk mulai melakukan suatu perubahan–karena yang harus saya lakukan hanyalah mulai berubah, bukan berpikir.

 

Namasté 🙂

Dyah Synta

Leave a Reply