Anti Mistake Mistake Club

mistake

Beberapa minggu yang lalu, setelah sekian lama berkali-kali melihat namanya seliweran di layar HP, saya akhirnya memutuskan untuk sign up dalam sebuah portal online learning yaitu Skillshare [link]. Beberapa hari pertama setelah sign up, saya melahap langsung beberapa kelas dengan beragam topik yang saya kira akan membantu pekerjaan saya sehari-hari, atau sekedar sesuai dengan ketertarikan saya (yang buanyak banget itu). Salah satu kelas yang paling membekas di hati saya sampai saat ini–beberapa minggu setelah saya menyelesaikannya–adalah kelas Drawing on Everything yang dibawakan oleh Shantell Martin [link]

Awalnya, saya hanya tertarik untuk mengklik kelas tersebut karena durasinya yang singkat. Saya tidak tahu siapa itu Shantell Martin, dan melihat hasil karyanya pun belum pernah. Kalau ditanya apakah saya ingin bisa menggambar di atas permukaan apa saja yang saya temui pun tidak juga.

Tapi setelah menonton video perkenalan dan melihat hasil-hasil karya dari Martin yang berukuran besar-besar, saya merasa saya harus mengikuti kelas ini sampai selesai. Ciri khas karyanya yang tampak seperti doodle yang jujur namun tanpa makna membuat saya tergelitik untuk mengetahui lebih jauh tentang prosesnya dalam berkarya.

Satu per satu video dalam kelas tersebut saya simak baik-baik. Ternyata, tidak perlu melahap habis seluruhnya sampai saya akhirnya menekan tombol pause, dan merasa harus berhenti sejenak untuk ‘mengakurkan’ apa yang saya dengar dengan isi kepala saya.

Penyebabnya hanya satu potongan kalimat yang diucapkan oleh Martin tanpa ragu-ragu:

“…if you believe in mistakes.”

Menarik memang cara Martin mengajarkan para ‘muridnya’ untuk akrab dengan proses menggambar. Dari yang dapat saya simpulkan, prinsipnya sederhana sekali, yaitu membiasakan menggambar sebagai sesuatu yang spontan dan menyenangkan–meskipun sedang berada dalam situasi yang paling tidak nyaman untuk menggambar. Contohnya, Martin meminta kita untuk berlatih menggambar dalam keadaan media gambar yang diputar-putar atau bahkan dengan mata tertutup.

Saya adalah orang yang baru benar-benar belajar untuk menyukai proses menggambar ketika usia saya sudah nyaris menyentuh kepala dua, alias ketika saya memutuskan untuk berkuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Sebelumnya, semasa SD, saya pernah beberapa kali melewati masa-masa suka menyobek bagian tengah buku tulis untuk kemudian saya isi dengan komik, tentunya dengan visual ala-ala Sailor Moon–manga pujaan sejuta bocah perempuan kala itu. Tapi fase itu tidak bertahan lama, sebab saya merasa gambar saya jelek sekali.

Karena itu, ketika ingin berkuliah di FSRD ITB, saya menghabiskan waktu hampir satu tahun terakhir di masa SMA untuk mengikuti les gambar. Les gambar ini tentunya sudah jelas arahannya, yaitu untuk membuat para pesertanya siap menghadapi ujian gambar di rangkaian seleksi masuk FSRD ITB saat itu. Setelah akhirnya berhasil masuk dan memulai masa perkuliahan, saya pun bertemu dengan mata kuliah Gambar di tahun pertama. Di tahun kedua, karena sudah memasuki jurusan yang lebih spesifik, saya kembali dipertemukan dengan pelajaran menggambar–meskipun kali itu arahan menggambarnya sudah dibatasi hanya berupa benda, karena saya berada di jurusan Desain Produk.

Singkat kata, keseluruhan proses yang saya jalani untuk mengenal kegiatan ‘menggambar’ adalah sebuah perjalanan yang penuh logika dan ‘rambu-rambu’. Meskipun tentu saja hal ini tidak salah, tapi melihat seorang Shantell Martin bisa dengan entengnya mengeluarkan pernyataan seputar cara berkaryanya yang relatif ‘nekat’, tentu membuat saya melongo.

“I used a permanent marker, because i want to live with my mistakes. Everything is one huge mistake. We go through life trying to erase these things or cover them up and in fact these things make us.”

-A Conversation with Shantell Martin [link]

Foto saat resepsi pernikahan saya dan Fikri
Foto saat resepsi pernikahan saya dan Fikri

Lalu tentu saja saya jadi tergelitik untuk menelaah hidup saya sendiri dari perspektif kata-kata yang baru saya baca itu.

Saya sering melontarkan pertanyaan bertema ‘what ifs’ kepada Fikri, suami saya. Salah satu pertanyaan yang paling sering saya tanyakan adalah apakah saya dan dia tetap akan menikah kalau sejak kami pertama kali mengenal satu sama lain, kami langsung memutuskan untuk berpacaran–bukannya ‘menunggu’ sampai lima tahun seperti yang terjadi pada kenyataannya.

Jawaban dari Fikri selalu sama: ‘Yah, mana aku tau.’ 😆 Tapi di dalam hati, saya sebenarnya selalu menjawab sendiri pertanyaan itu dengan satu kata: (kayaknya sihtidak (deh) 😀

Nyatanya, dalam kurun waktu lima tahun tersebut, memang banyak sekali yang terjadi di dalam hidup saya dan Fikri. Beberapa adalah hal yang positif, seperti berhasil mendapatkan gelar sarjana masing-masing. Tapi ada juga beberapa hal yang justru menimbulkan rasa menyesal, seperti terlalu banyak saling bercanda dan melontarkan ejekan kepada satu sama lain sehingga kami berdua sama-sama tidak tahu kalau diam-diam kami saling naksir.

Meskipun pada akhirnya cerita kami jadi mirip dengan skenario FTV, harus saya akui bahwa those were actually the things that made us–seperti apa yang disampaikan oleh Shantell Martin. Lima tahun yang kami habiskan dengan bercandaan yang geje dan cengengesan mungkin adalah salah satu faktor terbesar yang membuat saya sangat bersyukur karena pada akhirnya kami menjadi keluarga.

Sesi savasana di kelas Ngayoga Bersama LANA terakhir di tahun 2017
Sesi savasana di kelas Ngayoga Bersama LANA terakhir di tahun 2017

Mungkin ini juga yang membuat hampir semua orang yang saya temui di kelas yoga selalu tanpa ragu mengungkapkan betapa cintanya mereka terhadap savasana. Mungkin bukan karena savasana-nya itu sendiri–yang tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebuah posisi berbaring telentang dengan mata terpejam tanpa kehilangan kesadaran–tapi seluruh rangkaian kejadian yang membawa mereka sampai kepada savasana. Mungkin tanpa kesulitan menjaga keseimbangan di virabhadrasana 3 atau perut yang nyaris kram di posisi navasanasavasana tidak akan terasa senyaman itu 🙂

Mungkin benar kalau satu-satunya tugas manusia di dunia ini adalah untuk bersyukur, dalam kondisi apapun. Karena, mungkin benar adanya:

“There are no mistakes in life, only lessons.”

-Robin Sharma

 

Namasté 🙂

Dyah Synta

Leave a Reply