Clean Slate

memaafkan

10 hari pertama di 2018 sudah lewat!

Mudah-mudahan 10 hari tersebut cukup menyenangkan dan membuatmu optimis untuk mengisi 355 hari berikutnya dengan energi positif, ya.

Untuk saya sendiri, 10 hari pertama di tahun ini berlalu seperti hari-hari lainnya–ada hal-hal yang membuat saya senang dan bahagia, tapi ada juga yang membuat saya sedih dan kesal. Meskipun begitu, di penghujung tahun 2017 kemarin, saya mendapatkan sebuah ‘tamparan’ yang cukup spesial.

Semua berawal dari sebuah sesi training yang saya ikuti di Kirana Yoga School, berjudul Awakening the Chakra ConnectionTraining ini dibawakan oleh salah satu guru favorit saya, Cristi Christensen. Karena saya sudah beberapa kali menjadi murid Cristi dalam sesi training, saya sudah cukup familiar dengan cara Cristi mengajar–rapi, sistematis, dan sangat informatif, dengan cara penyampaian yang tidak membosankan. Untuk saya yang awalnya tidak pernah terlalu tertarik untuk mempelajari aspek non-fisik dari yoga, Cristi telah memiliki peran besar dalam menumbuhkan ketertarikan saya pada sistem chakra.

memaafkan
Altar yang menemani kami selama training berjalan

Tentu saja, karena modul training ini adalah bagian dari teacher training, tujuan akhirnya adalah agar para peserta–termasuk saya–bisa mengaplikasikan pengetahuan tentang sistem chakra pada kelas-kelas yoga yang kami ajarkan. Dan untuk mencapai tujuan itu, pendekatan yang dipilih oleh Cristi adalah melalui pengalaman. Jadi, rangkaian training dimulai dengan kami yang diminta untuk merasakan koneksi dengan chakra kami masing-masing selama training berlangsung.

Seperti halnya upaya untuk mengenali diri sendiri pada umumnya, dengan menggunakan sistem chakra kami juga ‘diminta’ untuk kembali mengingat apa-apa saja yang pernah terjadi pada kami, bagaimana kami bereaksi terhadap segala sesuatu, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak, bagaimana kami dibesarkan, oleh siapa kami dibesarkan, dan masih banyak lagi. Ini semua bisa dikatakan terjadi begitu saja–tanpa diminta secara langsung–seiring dengan semakin banyaknya informasi yang kami dapatkan tentang ketujuh chakra di tubuh manusia.

Di hari terakhir sesi training, Cristi menutup dengan sebuah ‘mandat’ alias PR. Ia meminta kami untuk mengungkapkan chakra mana di dalam diri yang kami rasa paling membutuhkan perhatian, dan ia meminta kami untuk memfokuskan 30 hari seterusnya untuk melakukan sadhana, alias perbuatan baik, yang bisa membantu kami untuk kembali mengharmoniskan kondisi chakra tersebut.

Ketika itulah saya hanya dapat berpikir untuk melakukan satu hal, yaitu memaafkan.


Sejak pertama kali mengetahui bahwa salah satu ciri ketidakseimbangan chakra ke-4 (Anahata) adalah sikap tubuh yang cenderung membungkuk, saya langsung merasa tertohok. Untuk seseorang yang rutin beryoga dan cukup nyaman melakukan back bending, postur tubuh saya sehari-hari memang cukup memprihatinkan. Ini salah satu alasan saya sering merasa tidak pede saat difoto, kecuali dalam pose yoga.

Dan salah satu hal utama yang harus saya ‘bereskan’ adalah bagaimana saya menyikapi kesalahan-kesalahan yang berserakan di sepanjang usia saya–baik yang dilakukan oleh orang lain, maupun oleh diri saya sendiri.

Selama ini, saya kira penyebabnya adalah tubuh yang tergolong bongsor saat kecil–tinggi badan saya saat kelas 5 SD hanya berselisih 2 cm dari tinggi badan saya saat ini. Tapi setelah mendengar penjelasan mendetail dari Cristi tentang chakra Anahata, saya tidak bisa tidak mengakui bahwa saya memang membutuhkan ‘kerja lebih’ dalam hal ini. Dan salah satu hal utama yang harus saya ‘bereskan’ adalah bagaimana saya menyikapi kesalahan-kesalahan yang berserakan di sepanjang usia saya–baik yang dilakukan oleh orang lain, maupun oleh diri saya sendiri.

Saya sering mengagumi bagaimana orang lain bisa tetap bersikap baik pada orang yang pernah berbuat ‘jahat’ kepadanya. Dalam hati, saya banyak bertanya-tanya apakah orang ini benar sudah melupakan apa yang pernah terjadi, apakah benar kesalahan seperti itu bisa dilupakan begitu saja, dan sebagainya. Lalu biasanya saya menutup rentetan pertanyaan di kepala saya itu dengan sebuah pernyataan:

“Kalo saya sih, nggak akan bisa kayak gitu.

Kecil maupun besar, kesalahan yang dilakukan oleh orang lain terhadap saya jarang bisa saya anggap ‘selesai’ begitu saja. Dan setelah hampir tiga puluh tahun menjalani hidup seperti itu, tidak heran kalau postur tubuh saya semakin lama semakin ‘menutup’. Mungkin hati saya terlalu berat menanggung beban dendam yang saya timpakan kepadanya selama ini.

Mencoba me-release tension di sekitar bahu dan punggung atas untuk meng-improve postur saya sehari-hari

Sejak hari pertama mengerjakan PR sadhana ini, perasaan saya selalu acak-acakan. Mengambil komitmen untuk memaafkan berarti saya harus memberanikan diri untuk kembali mengingat pengalaman-pengalaman buruk yang pernah saya alami. Pengalaman-pengalaman yang saya ‘timbun’ bersama dengan coretan tanda ‘X’ besar pada nama-nama dan wajah yang terhubung dengannya. Mulai dari segala jenis celaan dan cibiran yang pernah saya terima, seluruh amarah yang pernah diarahkan oleh orang lain pada saya, pengkhianatan kecil maupun besar, seluruh janji yang tidak ditepati, kekecewaan… semua.

Dan karena proses ini dimulai pada pertengahan bulan Desember 2017, sebenarnya hingga hari ini pun saya masih berada di tengah proses ‘perang batin’ ini–perang batin yang semakin hari sepertinya semakin ruwet. Setiap kali saya merasa sudah bisa benar-benar memaafkan kesalahan seseorang di masa lalu, tidak lama kemudian orang lain kembali menumbuhkan rasa kesal baru di hati saya.

Saya seolah diingatkan bahwa perasaan ini akan selalu ada, dan memang tidak mungkin hilang seutuhnya dari hidup saya.

Satu hal yang membuat saya cukup optimis dan tidak menyerah mengerjakan PR ini adalah bagaimana saya selalu merasa bisa memaafkan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang saya sayangi–suami, sahabat-sahabat, saudara, dan orang tua saya. Bagaimana seberapa besar pun rasa kecewa yang saya miliki terhadap mereka, saya selalu dengan senang hati lebih memprioritaskan rasa sayang yang saya miliki untuk mereka.

Kalau saya bisa memiliki maaf yang tidak pernah ada habisnya untuk mereka, mengapa saya tidak bisa memilih untuk membagi-bagikan ini juga pada setiap orang yang saya temui di hidup saya?

Dan bukankah saya tidak akan pernah menjadi saya tanpa seluruh rangkaian kejadian itu?

Afterall, bukankah dunia ini akan menjadi tempat yang menyenangkan sekali bagi saya jika saya merasa dikelilingi oleh sahabat dan keluarga di manapun saya berada? Dan bukankah saya tidak akan pernah menjadi saya tanpa seluruh rangkaian kejadian itu?

 

Iya, kemungkinan besar saya butuh waktu lebih dari 30 hari untuk benar-benar menjernihkan hati saya dari rasa dendam. Mungkin juga saya tidak akan pernah mencapai tahap tersebut. Tapi kalau ada satu hal yang saya pelajari dari proses yang telah saya mulai ini, itu adalah bahwa ‘gol’ tersebut merupakan salah satu tujuan hidup yang pantas untuk saya kejar tanpa kenal lelah dan putus asa.

Mudah-mudahan 2018 menjadi tahun yang penuh dengan maaf dan kasih sayang untuk saya. Mudah-mudahan saya diberi kelapangan dada untuk mencintai setiap individu yang saya temui, seperti saya mengasihi keluarga dan sahabat-sahabat saya sendiri. Mudah-mudahan kita semua bisa bersahabat dan saling mengasihi.

Here’s to all the forgiveness and friendships we share, and will create this year.

 

Namasté 🙂

Dyah Synta

Comments

  1. Raden Prisya

    Normal aja kok Syn kalau kamu merasa belum bisa memaafkan – some stuff takes time to heal. Kalo aku, biasanya ‘meledak’ dulu, lalu mundur. Jaga jarak tapi dengan hubungan baik. Sampe kapan? Ya entah sampe kapan – the universe knows best 😉

    1. Post
      Author
      Dyah Synta

      It really does, indeed 😀 Tapi berhubung aku orangnya pelupa, anggaplah tulisan ini pengingat aku supaya gak lupa kalo memaafkan itu selalu lebih baik daripada mendendam, hehe. That’s what happened to us kannn 😉 Anyway, thanks for the love, Pi ❤

Leave a Reply