Memulai Bullet Journal

bullet journal

Anatomi Bullet Journal

Ryder Carroll menjelaskan bahwa alasan utamanya menciptakan sistem bullet journal adalah untuk menyederhanakan hidupnya–terutama dalam penggunaan notebook. Satu permasalahan yang membuat dia menciptakan bullet journal sebagai solusi adalah kondisi di mana dia–yang berprofesi sebagai Desainer Produk–merasa rempong jika ke manapun dia pergi harus selalu membawa 3 notebook berbeda: agenda, sketchbook, dan buku catatan. Belum lagi ditambah alat tulisnya, dan aneka gadget.

Jadi, tujuan awal diciptakannya bullet journal adalah untuk menyederhanakan kebutuhan notebook sehari-hari, di mana penggunanya dapat menggunakan satu notebook saja untuk dimanfaatkan sebagai agenda, sketchbook, dan buku catatan.

Kendala pertama yang pasti ditemukan ketika menggunakan satu buah buku untuk berbagai keperluan berbeda ini adalah kesulitan ketika harus mencari satu catatan atau gagasan yang sempat kita tulis. Ini bahkan sulit untuk dilakukan dalam sketchbook dan buku catatan terpisah, apalagi jika disatukan dengan agenda.

Karena itulah, Ryder Carroll menciptakan bagian pertama dan paling vital dari bullet journal, yaitu:

  • Index
Index yang saya bagi menjadi dua bagian: planning dan collections

Atau dalam Bahasa Indonesia, daftar isiIndex ini sejatinya harus kita update seiring dengan bertambahnya konten yang tertulis di dalam bullet journal kita. Konsekuensinya adalah, setiap halaman dalam bujo harus diberi nomor. Jika merasa hal ini terlalu menyulitkan, kamu bisa memilih notebook yang setiap halamannya sudah bernomor (contohnya, notebook dari merk Leuchtturm1917 dan Scribbles That Matter). Tapi kalau saya sendiri sih, tidak merasa hal ini serepot itu, jadi saya masih asyik-asyik saja menomori setiap halamannya secara manual 😀

Untuk konten dari bullet journal sendiri, secara garis besar bisa dibagi menjadi dua bagian, yaitu planning dan collections. Bagian planning adalah di mana kita memfungsikan bujo sebagai agenda, dan bagian collections adalah di mana kita memfungsikannya untuk keperluan lain (mencatat minutes of meeting, mensketsa ide, habit tracking, dan lain sebagainya). Saya pribadi memutuskan untuk membagi dua index di dalam bujo saya untuk memudahkan saya menemukan halaman-halaman dalam kedua bagian ini.

  • Planning

Ini adalah bagian yang mendominasi bujo saya. Dalam bagian planning ini, ada beberapa unsur yang–menurut saya–saling menunjang.

Yang harus diperhatikan adalah satu hal yang sangat membedakan sistem bullet journal dengan agenda konvensional yang sudah menyediakan space untuk setiap tanggal dalam satu tahun ketika kita beli. Dalam bullet journal, karena kita menyiapkan sendiri space untuk setiap tanggal secara one at a time–alias tidak langsung sekaligus di awal tahun untuk satu tahun ke depan–sangat penting untuk memahami penggunaan setiap bagian dari sistem planning ini.

  • Future Log
Future Log untuk dua bulan

Future log adalah tempat kita untuk mencatat segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan, alias dalam space untuk planning yang belum kita sediakan. Jadi, jika disesuaikan dengan situasi saat ini, future log kita gunakan untuk mencatat janji pertemuan, acara, dan apapun yang akan terjadi di Bulan Maret, April, Mei, dan seterusnya. Karena itulah, format future log secara visual tampak seperti kalender tahunan.

  • Monthly Log
Monthly Log yang saya bagi menjadi 3 bagian: personal, teaching, dan pekerjaan. Juga dilengkapi dengan habit tracker (di sebelah kiri) dan gratitude log (di sebelah kanan)

Monthly log adalah halaman yang kita persiapkan di awal bulan untuk mencatat plan kita di bulan yang saat ini sedang berjalan–atau dalam situasi saat ini, Bulan Februari. Hal pertama yang harus kita lakukan saat membuat monthly log adalah memindahkan apa yang sudah kita tulis di future log Februari. Setelah monthly log siap untuk digunakan, maka setiap jadwal dan acara di Bulan Februari tidak lagi harus ditulis di future log Februari, tetapi cukup di halaman monthly log.

  • Daily Log

Daily log ini adalah space di mana kita menempatkan rapid log alias to-do list setiap harinya. Jika dalam mengisi monthly log kita mengutamakan isinya dengan hal-hal yang sudah kita tuliskan dalam future log, maka ketika mengisi daily log, hal pertama yang harus kita tuliskan juga adalah jadwal yang sudah tertulis di dalam monthly log untuk hari tersebut. Setelah itu, barulah kita menuliskan hal-hal yang ingin dan akan kita kerjakan untuk mengisi hari itu.

  • Weekly Spread
Beberapa daily log yang sudah tergabung menjadi sebuah weekly spread.

Pada dasarnya, weekly spread adalah dua halaman dalam bujo yang berisi beberapa daily log. Tapi beberapa orang juga menerapkan weekly planning selain monthly log dan daily log. Ini memudahkan dalam set up karena kita jadi menyiapkan space untuk tujuh hari ke depan di setiap awal minggu, dan memindahkan konten monthly log per tujuh hari, bukan per hari. Saya sendiri saat ini sedang tidak menggunakan weekly planning dan merasa cukup dengan penggunaan monthly log dan daily log saja. Kamu bisa saja berbeda 😉 jadi, silakan pilih format planning yang paling sesuai dengan kebutuhanmu.

  • Collections

Kalau kamu mencari tahu tentang bullet journal di Pinterest dan Instagram dan menemukan halaman-halaman yang tidak relevan dengan planning, bisa dikatakan semua itu termasuk di dalam collectionsCollections inilah yang membuat bullet journal berbeda dari sistem planning lainnya–yang memungkinkan kita untuk menggunakannya sebagai sketchbook, buku catatan, atau apapun–sekaligus juga yang membuat kita memerlukan adanya index.

Collections ini dapat sangat beragam isinya. Saya sendiri tidak selalu menerapkan collections yang sama setiap bulannya, meskipun ada juga yang selalu berulang. Beberapa contoh collections yang pernah dan masih saya gunakan, antara lain:

  • Teaching log, untuk mencatat kelas-kelas yoga yang saya isi setiap bulannya, dan jadwal mengajar setiap minggu;
  • Expenses tracker, untuk mencatat pengeluaran;
  • Habit trackeruntuk mencatat hal-hal yang ingin saya jadikan kebiasaan–seperti penggunaan skincare, memasak makan siang sehat, meditasi, dan sebagainya;
  • Period tracker, untuk mencatat tanggal dan durasi datang bulan;
  • Entertainment list, mencatat buku, acara TV, film, dan lagu yang menarik perhatian saya;
  • Brain dump, sebagai space untuk mencatat ide-ide random yang muncul di waktu yang random;
  • Skincare bottle tracker, untuk mencatat berapa lama saya menghabiskan setiap item skincare yang saya gunakan;
  • Blogposts log, untuk membantu menjaga konsistensi saya dalam menulis blog ini.
Salah satu collections yang pernah saya buat: resep-resep skincare dengan menggunakan minyak zaitun

Tentunya masih banyak lagi collections lain yang bisa diterapkan di dalam bujo. Bisa juga dikombinasikan dengan jadwal kuliah, timeline proyek yang sedang dikerjakan, dan banyak lagi.

Grow with It!

‘Evolusi’ bujo saya dari tahun ke tahun.

Kalau ada satu hal paling penting yang saya pelajari dari rutinitas saya ber-bullet journal selama dua tahun terakhir ini, itu adalah untuk menyikapi bujo saya dengan santai.

Ketika baru mulai ber-bujo, saya samasekali tidak memiliki visi untuk menggarap estetika bujo saya dalam konsep tertentu. Baru setelah menghabiskan dua notebook lah saya menyadari bahwa bujo saya sangat monokrom, dan saya jadi tertarik untuk membuat @monokromajic.

Sebelum saya menyadari hal itu, saya pun juga menghabiskan waktu lama dalam berusaha untuk menghias bujo saya agar tampak seperti foto-foto yang saya temukan di internet. Setiap kali saya mengalami perasaan putus asa karena tampilannya tidak pernah menjadi secantik yang saya harapkan, lalu saya mengabaikan bujo saya untuk beberapa lama karena ilfil sendiri.

Sekarang, setelah menemukan cara saya sendiri dalam ber-bujo, saya jadi merasa sangat nyaman menulisi dan menghiasinya setiap hari. Karena sudah merasa bujo ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian saya pun, saya jadi tidak mudah ilfil kalau beberapa halaman di dalamnya terlihat butut. Karena namanya juga hidup–ada kalanya kita semangat berdandan, ada kalanya pula seharian penuh kita habiskan di dalam daster berbau acem.

Halaman-halaman yang terlihat ‘polos’ dan asal-asalan kini di mata saya terlihat ‘menceritakan’ betapa sedang rungsing-nya saya di hari ketika saya menulisinya. Halaman-halaman yang terlihat apik juga bercerita tentang betapa baiknya mood saya hari itu. Secara keseluruhan, bujo saya menjadi rekaman atas perjalanan hidup saya yang bisa saya kilas balik kapan saja. Untuk saya, ia jauh lebih banyak bercerita dibandingkan dengan buku harian yang saya tulisi bertahun-tahun selama saya sekolah dulu.

 

Apakah kamu tertarik untuk memulai ber-bullet journal juga? 😉

 

Namasté 🙂

Dyah Synta

SaveSave

SaveSave

SaveSave

SaveSaveSaveSave

SaveSave

Pages: 1 2

Comments

    1. Post
      Author
  1. Maria Kristi

    Bagus banget Bujo-nya Mbak. Rapi.. kalau saya masih bertahan sama agenda 6 bulanan yang ada monthly planner, sama weekly plannernya (di halaman weekly ada juga catatan per hari).

    1. Post
      Author

Leave a Reply